Abaikan

tabel 4.2

tabel 4.2

tabel 4.3

tabel 4.3

tabel 4.4

tabel 4.4

tabel 4.5

tabel 4.5

Daftar Simbol 1

Daftar Simbol 1

Daftar Simbol 2

Daftar Simbol 2

tabel 3.7 elisitasi 1

elisitasi 1

elisitasi 2

tabel 3.8 elisitasi 2

tabel 4.1

tabel 4.1

tabel 4.6

tabel 4.6

gambar 4.1

gambar 4.1

gambar 4.2

gambar 4.2

gambar 4.3

gambar 4.3

gambar 4.4

gambar 4.4

gambar 4.5

gambar 4.5

gambar 4.6

gambar 4.6

gambar 4.7

gambar 4.7

gambar 4.8

gambar 4.8

gambar 4.9

gambar 4.9

gambar 4.10

gambar 4.10

gambar 4.11

gambar 4.11

gambar 4.12

gambar 4.12

gambar 4.13

gambar 4.13

gambar 4.14

gambar 4.14

gambar 4.15

gambar 4.15

gambar 4.16

gambar 4.16

gambar 4.17

gambar 4.17

gambar 4.18

gambar 4.18

gambar 4.19

gambar 4.19

gambar 4.20

gambar 4.20

tabel 3.1

tabel 3.1

tabel 3.2

tabel 3.2

tabel 3.3

tabel 3.3

tabel 3.4

tabel 3.4

tabel 3.5

tabel 3.5

tabel 3.6

tabel 3.6

—–

gambar 4.21

gambar 4.21

gambar 4.22

gambar 4.22

gambar 4.23

gambar 4.23

gambar 4.25

gambar 4.25

gambar 4.26

gambar 4.26

gambar 4.27

gambar 4.27

gambar 4.28

gambar 4.28

gambar 4.29

gambar 4.31

gambar 4.30

gambar 4.32

gambar 4.31

tabel 4.7

tabel 4.7

Tabel 3.9 elisitasi 3

Tabel 3.9 elisitasi 3

tabel 3.10 final elisitasi

tabel 3.10 final elisitasi

Gambar 3.3

Gambar 3.3

Tanya Pengalaman Pake Asuransi Donk

Saya lagi iseng, iyakk iseng pengen tau seluk-beluk asuransi. Kali ini saya bukan mau menanyakan asuransi kesehatan atau produk asuransi lainnya, tapi saya lagi penasaran sama asuransi kendaraan bermotor. Gara-garanya hari minggu kemaren waktu saya lagi mau ngeluarin mobil dari rumah saya gak sengaja nubrukin bemper ke tiang kanopi. Saya baru nyadar pas atap kanopi bergetar hihi.

Yang lebih parah adalah pas hari pertama mobil keluar, udah penyok aja gitu guedhe banget gara-gara si mbake nabrak motor yang tiba-tiba berenti di tengah jalan, tabrakan beruntun gitu dah. Saya nggak bisa tidur sampe semaleman, ternyata kayak gitu yak rasanya, kasian dan sedih sama si motor yang gak sengaja diserempet, sedihhh. Ya kali mobil lagi ngebut di tengah jalan tiba-tiba ada motor 2 berhenti mendadak dan udah ngeles masih kena juga. Lalu lintas di sini emang nggak bisa diprediksi.

Saya masih dalam tahapan belajar sampe sekarang dan makin ke sini kok semakin ciut nyetir sendiri. Padahal dulu saya bisa nyetir di tanjakan dan di jalan raya dalam keadaan matjet, entah kenapa sekarang saya jadi ciut huhu. Untuk menghindari kerusakan yang lebih parah dalam tahap pembelajaran selanjtnya, ada baiknya kalo mulai diasuransiin. Tapi apa daya duite ora ono, gara-gara kepake buat beli tiket pesawat dan buat modal jalan-jalan mulu sekarang bokek dah jadinya hiks.

Saya masih googling produk asuransi yang klaimnya gak ribet dan yang nggak banyak dikeluhin pelanggannya. Saya mau tau aja sih, mungkin teman-teman ada yang pake asuransi kendaraan bermotor. Dari sekian banyak perusahaan penyedia jasa asuransi kendaraan bermotor, kalo boleh tau, kalian pake apaan dan gimana kelebihan dan kekurangannya. Sharing yukk!

Sebenarnya cuma buat nambah pengetahuan aja sih, kali aja dapet rejeki nomplok dan bisa punya asuransi.

Tanya Tiket Transit [Iseng Doang]

Mari kita lanjutkan dengan postingan saya ke-5 hari ini! Bener-bener kurang kerjaan ya posting mulu. Ini juga disambi sambil bebenah rumah dari pagi haha.

Seharian ini kan saya lagi posting tentang pengalaman perjalanan saya naik pesawat ini dan itu. Nah pas lagi iseng-iseng ngecek tiket, saya nggak sengaja nemu ini. Nggaaaak, saya belum mau beli tiket pesawat lagi kok. Lagian saya kan masih proses pemulihan rekening akibat beli tiket ke NZ haha. Ini ceritanya cuma iseng-iseng berandai-andai doang.

Iseng doang gak beli kok, duite ndi?

Iseng doang gak beli kok, duite ndi?

Berangkatnya : Jakarta – Amsterdam – London

Pulangnya : London – Paris – Jakarta

Nah yang mau saya tanyakan adalah, boleh gak sih kalo kita gak melanjutkan penerbangan lanjutan atau connecting flight saat transit? Jadi pas transit di Amsterdam kita gak naik pesawat ke London, langsung melipir keluar bandara Schipol dan keliling deh, trus lanjutin perjalanan ke Munich-Prague-Krakow-Bratislava-Interlaken-Italia-Paris-London. Buset maruk banget dah kayak punya cuti dan duit aja ckckckck.  Kalo kabur pas transit nanti bermasalah nggak sih di pemeriksaan keimigrasian? Kan gak mau rugi ceritanya, udah beli tiket mahal-mahal ke Eropa masak gak mampir ke negara tetangga. Daripada udah sampe London terus beli tiket eurostar lagi ke Paris atau beli tiket Ryan Air atau Easyjet ke Amsterdam.

Ini cuma penasaran aja kok, boleh apa enggak kalo kayak begitu? Mohon bimbingannya suhu! Terima kasih. #beneran iseng doang

Terbang dengan AirNZ [NZRoadTrip]

Ok, mari kita lanjutkan dengan postingan ke-4 hari ini. Mumpung lagi produktif ngeblog hehe. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya terbang dengan pesawat Air New Zealand. Air NZ maskapai milik Selandia Baru ini memang keren. Sejak jauh-jauh hari saya sudah membuat Airpoints, kartu frequent flyer milik AirNZ, buat iseng-iseng doang sih. Sebenarnya saya gak harus naik ini sih, naik apa aja bisa yang penting tiketnya murah dan selamat sampai tujuan.

Setelah puas berpetualang selama 14 hari di jalan, tiba juga saatnya bagi kami untuk mengucapkan selamat tinggal sampai jumpa kepada New Zealand. Di hari ke-15 perjalanan saya, saya harus meninggalkan Christchurch dan kembali ke Indonesia.

Tanggal 24 Desember 2014, tepat pukul 3 dini hari, alarm ponsel saya berbunyi, berarti tiba saatnya bagi kami untuk segera mandi, berkemas meninggalkan Christchurch Canterbury House dan bergegas ke bandara. Kami berusaha untuk tidak membangunkan pemilik rumah dan tamu lainnya. Namun saat akan meninggalkan rumah, si om pemilik rumah terbangun dan melihat kami pergi. Yahh ketauan deh, kayak maling aja haha. Saat keluar rumah, langit Christchurch masih tampak gelap dan suara angin terdengar cukup kencang diiringi dengan hembusan angin yang cukup dingin.

Kami langsung masuk ke mobil sewaan yang sudah menunggu dengan setia di halaman depan rumah, saya pun langsung duduk di kursi penumpang di depan dan mengenakan jaket tebal. Sedangkan teman jalan saya segera menyalakan mesin mobil, mensetting GPS dan kamipun mulai berkendara ke arah jalan raya. Kami sempat tersesat waktu mencari putaran balik, kami malah muter-muter di komplek perumahan di Bailey Avenue dan berusaha untuk mencari jalan raya. Mbak GPS-nya baru bangun tidur, mungkin dia tidak fokus haha.

Setelah ketemu jalan raya kami langsung mengikuti arahan mbak GPS dan berkendara menuju bandara. Ada yang kami lewatkan saat akan ke bandara, kami nggak tau ke mana harus mengembalikan mobil sewaan. Saya hanya fokus dengan bagaimana cara menyewa mobil tapi nggak mencari tahu bagaimana cara mengembalikan mobil sewaan. Saya kira balikinnya ke bandara, tapi ternyata saat di bandara kami nggak menemukan satu pun counter apex, di parkiran pun nggak ketemu logo atau plang apex rental. Di sini saya agak stress dan kesal karena matahari sudah hampir menampakan sinarnya dan kami belum juga tahu ke mana balikin mobil sewaan. Kami langsung meluncur ke counter check in Air New Zealand. Di sini kami menemukan masalah lainnya, ternyata kami harus self check in AirNZ dengan menggunakan mesin yang disediakan di terminal keberangkatan. Saya pun mencoba untuk check in tapi saking stressnya saya nggak bisa check in. Untungnya di situ ada petugas check in yang siap sedia untuk membantu penumpang yang kesulitan, fiuhhh. Saya sampe lupa kasih liat kartu Airpoints saya.

Kelar check-in kami bertanya ke sana ke mari di mana counter apex rental. Bagian informasi pagi itu belum buka, kami bertanya kepada mbak-mbak yang bertugas di counter penyewaan mobil Hertz dan nanya di mana counter apex. Kami mau pinjem teleponnya tapi kata mbak-nya kami bisa menggunakan telepon koin yang ada di samping counter, owhh, ok. Saya langsung mengambil struk/lembaran berkas yang diberikan pada saat mengambil mobil dan mencoba untuk menghubungi semua nomor telepon yang ada tapi nggak ada jawaban. Pas lagi ngecek nomor telepon saya melihat lembar di halaman belakang struk, ternyata alamat dan cara untuk mengembalikan mobil tertera di bagian belakang struk penyewaan itu. Makanya baca dong haaha!!

Kami berjalan ke parkiran dan membayar parkir NZ$12 melalui mesin parkir. Kami mensetting GPS dan mengarahkan ke tempat ngebalikin mobil yang jaraknya lumayan jauh kalo jalan kaki. Setelah mengikuti arahan GPS akhirnya ketemu juga tempatnya, Airport Canterbury 17-25 Logistics Drive Christchurch! Jarak dari bandara menuju tempat ngebalikin mobil sewaan kurang lebih 3 km. Ya ampun perjuangan banget dah pagi-pagi buta. Dari tempat ngebalikin mobil kami diantar lagi ke bandara dengan menggunakan shuttle yang disediakan oleh Apex. Karena ngebalikin mobil diluar jam kerja kami dikenakan biaya NZ$30 yang sudah dibayar saat booking/memesan pertama kali.

Mobil yang akan membawa kami kembali ke bandara Christchurch

Mobil yang akan membawa kami kembali ke bandara Christchurch

Sekarang mari kita lanjutkan dengan cerita di pesawat!
Setelah selesai urusan mengembalikan mobil sewaan, kami harus segera masuk ke ruang tunggu bandara Christchurch dan siap-siap pulang. Pesawat yang saya tumpangi adalah pesawat dengan nomor penerbangan NZ887 dengan nomor kursi 13C. Yeay home home home!

Sebelum naik pesawat seperti biasa saya mengisi botol minum saya melalui tap water yang disediakan di bandara dan melipir ke jendela di ruang tunggu dan foto-foto pesawat yang akan saya tumpangi. Kesampean juga naik AirNZ hehe. Beberapa saat kemudian terdengar suara panggilan untuk kami agar segera memasuki pesawat.

Suasana di ruang tunggu bandara sebelum masuk pesawat

Suasana di ruang tunggu bandara sebelum masuk pesawat

Pesawat Air New Zealand yang akan membawaku ke Sydney

Pesawat Air New Zealand yang akan membawaku ke Sydney

Kursinya lumayan lega kalo dibandingin AA, joknya pun beludru, bukan kulit. Di depan saya juga ada layar inflight entertainment, pokoknya mendingan dah daripada 3 pesawat yang saya tumpangi sebelumnya. Fullboard airline tapi tanpa makan dan bagasi. Saya udah tau jauh-jauh hari kalo di pesawat AirNZ ini video peragaan keselamatannya unik, lucu malah. Berasa lagi di setting film The Hobbit. Awak kabin dan penumpang di video itu berperan layaknya karakter film Hobbit. Mereka ngejual pariwisata melalui film, keren banget dah. Kalian bisa nonton video keselamatan AirNZ melalui youtube kok. Cuma kok ya ngeri aja ya kalo sepesawat sama Orc, haha.

Air NZ Inflight Entertainment, kalo mau nonton film terbaru kudu bayar lagi

Air NZ Inflight Entertainment, kalo mau nonton film terbaru kudu bayar lagi

Nonton pembuatan film The Hobbit di pesawat. Suka sama Thauriel ini

Nonton pembuatan film The Hobbit di pesawat. Suka sama Thauriel ini

Pukul 06.30 pesawat kami boarding dan perjalanan dari Christchurch menuju Sydney International Airport ditempuh dalam waktu 3,5 jam. 3,5 jam berasa lama karena saya kelaperan di pesawat. Jadwal makan saya berantakan karena adanya perbedaan waktu antara New Zealand, Australia dan Indonesia, padahal cuma beda waktu 6 jam doang. Emang norak aja sayanya haha. Kalo ditotal-total perjalanan dari Christchurch Canterbury House sampai tiba di rumah adalah 23 jam, dan selama itu mata saya terjaga, di pesawat kepala saya pusing bukan main. Alhamdulillah penerbangan dari NZ ke Oz berjalan lantjar dan saya pun tiba di Sydney dengan selamat hihi. Ok, sekarang selamat menikmati foto hasil jepretan di pesawat hehe.

Sebelum Take Off

Sebelum Take Off

Pegunungan salju New Zealand tampak di bawah sana

Pegunungan salju New Zealand tampak di bawah sana

Awak kabin yang sedang bertugas

Awak kabin yang sedang bertugas

Sedang sibuk

Sedang sibuk

Hey mengisi arrival card australia lagii

Hey mengisi arrival card australia lagii

Halaman belakang boarding Pass

Halaman belakang boarding Pass

Di pesawat saya cuma mendengarkan musik dan berjuang untuk tidur, tapi gak bisa juga sih, pura-pura tidur aja dahh. Setelah tiba di bandara Sydney kami disambut oleh mas-mas petugas yang berjaga di pintu keluar pesawat dan menyapa kami dalam bahasa maori dan inggris, “Welcome! Kia Ora!” Di bandara Sydney ini akhirnya saya berpisah dengan teman jalan saya, selanjutnya kami meneruskan perjalanan kami masing-masing. Petualangan selanjutnya dari bandara Sydney nggak kalah seru, ada aja kejadian konyol dan bodoh yang bikin saya ketawa kalo mengingatnya lagi hehe. Baiklah, selamat hari valentine sodara-sodara! :-)

Hampir Nggak Jadi ke New Zealand [NZRoadTrip]

Lanjut ke postingan ke-3 hari ini. Kali ini saya mau cerita pengalaman saya waktu mau berangkat ke New Zealand melalui Tullamarine Airport Melbourne. Sebenarnya agak perih juga sih cerita yang ini, ini adalah pengalaman paling bodoh yang pernah saya lakukan.

11 Desember 2015. Setelah seharian kelilingin Melbourne sampe betis berkonde bersama dengan teman-teman akhirnya tibalah waktunya bagi saya dan Janti (teman #NyariTemanJalan nemu di blog ini) buat berangkat menuju negara impian kami. Kami berangkat dari pusat kota Melbourne dengan diatar oleh 2 orang teman kami, yupp Dominic dan Yani nganterin kami ke bandara naik mobilnya Yani. Lumayan banget kan gak perlu keluar ongkos bis buat ke bandara haha.

Dagdigdug saya agak-agak tegang juga nih pas mau memasuki bandara. Selangkah lagi menuju NZ. Cici Janti dengan langkah cepatnya berjalan meninggalkan saya di belakang, sedangkan saya harus berlari mengejarnya ke sana ke marihhh. Waktu tiba di antrian counter check-in saat menyerahkan tiket, tiket saya ditolak oleh mbak petugas check-in. “There’s something wrong with your ticket. I couldn’t find your name on our system.” #Maaaaaak!!

Mbak petugas check in menunjukan tanggal keberangkatan yang tertera pada tiket saya, tanggalnya sih bener tapi bulannya kok bulan 7, huaaaaa saya salah entry bulan keberangkatan! #nangiskejer

Saya dengan lutut lemas akhirnya mundur dan mempersilahkan si cici buat check in, pengen nangis deh rasanya. Sudah sejauh ini masak saya harus mengurungkan niat saya untuk mengunjungi settingnya The Hobbit. Saya sudah berdarah-darah buat sampe sini, saya udah nabung mati-matian, saya udah bela-belain menahan lapar buat ngumpulin duit ke New Zealand. Saya udah mencurahkan semua energi dan tabungan sampai titik penghabisan terakhir. Dan saya harus menyerah hanya karena selembar tiket yang akan mengantarkan saya ke gerbang rumahnya Bilbo?

Owhhh nooo!!! Kalo saya gak jadi berangkat ke New Zealand dan menunggu jadwal saya pulang dari Australia, bisa-bisa saya dideportasi oleh imigrasi Australia karena menyalahi izin tinggal. Saya tidak memiliki visa turis, saya hanya punya visa transit, dalam waktu 2 hari lagi berarti saya harus angkat kaki dari Australia, berarti harus beli tiket pulang lagi dong! Ato kalo nekad pengen stay di Oz selama 15 hari, pas pulang saya bakalan diinterogasi oleh imigrasi Australia trus kena denda. Skenario terburuk adalah saya bakalan dijebloskan ke Immigration Transit Accomodation atau Rumah Detensi Imigrasi atau dideportasi!! Saya bahkan gak punya uang buat beli tiket pulang!! Nanti mereka akan telepon KJRI di Sydney dan ngabarin perwakilan sana kalo ada WNI yang menyalahi izin tinggal. Nanti masuk di koran dong, imigrasi Australia menangkap imigrasi Indonesia akibat menyalahi izin tinggal, gak lucu banget. Berapa kerugian yang akan saya tanggung kalo saya nggak jadi berangkat ke New Zealand. Saya sudah membayar sebagian akomodasi, tiket pesawat dan tiket bus, bahkan kami sudah booking sewa mobil juga. Harus jadi!!

Itulah yang ada di kepala saya saat sedang berdiri di counter check-in Jetstar di bandara Tullamarine Melbourne. Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jimat terakhir saya untuk membeli tiket last minute. “Ok, i’ll buy the new one. How can i buy ticket here?” Sok cool sok cool daah, belagak tenang seakan-akan uang itu bukan masalah buat saya. Padahal saya stress pengen bayar pake apa buat beli tiket ini.

Saya disuruh melipir ke counter di sebelah kiri buat beli tiket baru. Mbak petugas airline menanyakan bagaimana saya akan membayar tiket ini, cash or credit? Dengan berat hati saya mengeluarkan dompet saya yang berada di tas kamera dan mengambil selembar kartu. “Ini, saya akan membayar dengan KTP saya!” Ya kali saya cuma bawa 100 dolar australia mau dipake buat bayar tiket, mana dapet!

Gak ada pilihan, mau gak mau saya harus pake kartu kredit saya. Waktu mbak-nya menyebutkan harga tiket yang harus saya bayar saya lemes gak ketulungan. Buseeeeeet, mahal bangeet!!!!! Tiket ini setara dengan tiket pulang saya dari Christchurch – Sydney – Denpasar! Tiket ini setara dengan tiket garuda saya ke Seoul pp bulan November tahun 2012! Mahal gilak!

Tiket yang sangat mahal

Tiket yang sangat mahal

Huhhhh, dengan tiket segitu seharusnya saya udah bisa naik Emirates dari Oz ke NZ udah termasuk dapet makan, inflight entertainment dan bagasi. Mimpi saya yang lain adalah nyobain naik emirates. Tau gitu saya beli tiket fullboard airlines aja dah. Jadi kalo ditotal tiket saya keseluruhan itu lebih mahal daripada tiket ke Eropa. Seriusannn!! kzl

Sebelum ke pemeriksaan imigrasi kami harus mengisi kartu keberangkatan yang akan diserahkan bersamaan pada saat pemeriksaan paspor. Saya bahkan udah nggak konsen ngisi kartunya. Saya shockkk, saya mentertawakan kecerobohan saya sendiri. Gara-gara terlalu excited kepengen ke NZ, waktu beli tiket pesawat jetstar bebarengan dengan saat beli tiket AA. Jeda sedikit sih, setelah beli tiket AA, saya beli tiket Jetstar jam 2 pagi. Iyakk jam 2 pagi dan saya udah ngantuk kayaknya jadinya gak teliti. Maksud hati kepengen murah malah mahal jadinya. Ini peringatan buat saya supaya jadi orang jangan terlalu pelit, makanya banyak-banyak sedekah hahaha. Gak lagi gak lagi kayak gini, kapoook.

Kia Ora! Sampai juga di Christchurch International Airport, New Zealand

Kia Ora! Sampai juga di Christchurch International Airport, New Zealand

Pohon natal di Christchurch Airport

Pohon natal di Christchurch Airport

Ngintip keluar bandara sebentar disambut udara dingin, masup lagiiii ke dalem

Ngintip keluar bandara sebentar disambut udara dingin, masup lagiiii ke dalem

Menara Pengawas CHC Airport

Menara Pengawas CHC Airport

So, are you ready for your next trip? Nanti dulu dah..

Suatu Hari di Bandara

H-5
Malam itu saya tidak bisa memejamkan mata, lutut saya lemas, jantung saya berdegup kencang dan keringat dingin mengucur deras dari dahi saya. Saya tidak sedang tidak enak badan, saya juga tidak sedang sakit atau stress. Saya hanya terlalu semangat karena 5 hari lagi saya akan berangkat menuju negara kangguru untuk kedua kalinya. Perjalanan kali ini saya tidak dibiayai oleh pemerintah Australia seperti pada perjalanan tahun sebelumnya ketika saya mendapatkan beasiswa. Kali ini saya harus merogoh kocek sendiri demi mewujudkan impian saya, yaitu mengunjungi negara kiwi. Perburuan saya membuahkan hasil, dengan kesabaran dan tekad yang kuat serta menahan kantuk, dari hasil perburuan tiket selama beberapa hari di tengah malam akhirnya saya mendapatkan tiket dengan harga 1,5 juta rupiah sekali jalan untuk tujuan keberangkatan Tullamarine Airport, Melbourne. Tiket ini termasuk murah apabila dibandingkan dengan tiket keberangkatan saya ke Brisbane tahun sebelumnya. Dulu saya menggunakan Singapore Airlines, kalo bayar sendiri entah berapa lama saya harus menabung untuk membeli tiket Singapore Airlines.

Bulan Juni 2014
Malam itu sekitar pukul 1 dini hari, setelah membeli tiket Air Asia saya langsung meluncur ke website Jetstar Airlines dan membeli tiket dengan rute Melbourne Tullamarine Airport ke Christchurch International Airport. Saya mendapatkan tiket dengan harga 1,96 juta, masih lumayan murah kan, tapi…

Tujuan saya ke Australia kali ini bukanlah untuk belajar atau kunjungan wisata, melainkan hanya untuk transit. Untuk mencapai New Zealand saya harus transit di salah satu kota di Australia, dan saya memilih Melbourne sebagai persinggahan pertama saya karena saya melihat di peta kalau Melbourne jauh lebih dekat menuju Pulau Selatan. Rute penerbangan Jetstar lebih banyak dan lebih murah melalui Melbourne, tidak perlu transit lagi di Sydney. Alasan kedua adalah karena saya belum pernah mengunjungi Melbourne, dan alasan lainnya adalah karena saya ingin mengunjungi teman saya. Rasanya ke-3 alasan itu cukup untuk menjadikan Melbourne sebagai kota persinggahan pertama saya. Dengan berbekal visa transit, kita dapat singgah di Australia tidak lebih dari 72 jam.

H-1
Lagi-lagi saya nggak bisa tidur 1 malam sebelum keberangkatan. Saya harus bangun pukul 3 dini hari untuk mengejar pesawat yang akan membawa saya ke Kuala Lumpur pagi harinya. Waktu bangun tidur kepala saya migrain luar biasa, badan saya panas dingin dan lemes. Saya terlalu excited setiap mau traveling ke negara yang jauh. Inikah yang dinamakan pre holiday syndrom?  Terakhir kali merasakan ini saat saya ke Seoul 2 tahun yang lalu. Saya harus cepat bangun dan berangkat ke bandara Soekarno Hatta yang hanya berjarak selemparan kolor. Walaupun bandara Soekarno-Hatta lokasinya cukup dekat dari rumah saya, tapi saya tetap harus berangkat lebih awal untuk menghindari ketinggalan pesawat. Sejak ditutupnya pintu M1 bandara, kami yang berdomisili di Tangerang dan sekitarnya harus masuk ke bandara melalui jalur alternatif. Waktu berangkat ke bandara saya diantar oleh kakak dan ibu saya, mobil kami melewati jalur parameter selatan (kalo gak salah), jalur ini lebih panjang dibandingkan jalur M1 karena harus memutari bandara.

Saya berangkat melalui terminal 3 bandara Soekarno-Hatta, ini adalah kali kedua saya naik pesawat sendiri ke luar negeri. Takut? Iyakkk! Saya takut tersesat di bandara haha. Saya berpamitan kepada kakak dan ibuk saya, minta doa seperti biasa supaya perjalanannya lancar dan pesawatnya gak kenapa-kenapa. Saya berjalan dengan pedenya dan tidak menoleh ke belakang ketika menaiki tangga menuju gate di terminal 3 “Langkah tegap majuuuu, jalan!!!”. Ketika akan melewati pemeriksaan imigrasi di bandara saya hampir salah masuk, saya mau masuk ke keberngkatan domestik haha. Owh saya salah, saya langsung mundur dan belok ke arah kiri menuju counter pemeriksaan imigrasi. Abisan sepi banget sih, saya kan gak ngeliat kalo ada orang.

Saya antri sendirian kemudian dipersilahkan maju ke counter di tengah, saat dilakukan pemeriksaan paspor ujug-ujug saya didatangi mas petugas imigrasi di counter sebelah dan diajak ngobrol. “Mau ke mana mbakkk??? Sendirian aja? Mbak ini anak pusat lho mas!” Kata si mas counter sebelah sambil memberi tahu rekan kerjanya.

Lhaaa kok saya nggak kenal kamu ya?? Siapa yaaa?? Saya hanya tersenyum dan menjawab, “Oh iya, mau halan-halan aja hehehe”  Aduhhh siapa yaa, saya mungkin kenal tapi gak inget, maap saya lupa hehe. Ok, back to the cerita!

Saya kepayahan gendong ransel saya yang beratnya naudzubillah, belum apa-apa punggung saya udah pegel. Beluman juga naik pesawat, masih mondar-mandir ke toilet di gate bandara doang. Waktu lagi ambil foto tiket dan paspor buat diposting ke path, tiba-tiba dari pengeras suara terdengar panggilan untuk kami agar segera masuk pesawat. Bebarapa saat kemudian kami dipersilahkan naik ke bis yang akan membawa kami ke pesawat yang sudah menunggu dengan cantiknya.

Terminal 3 bandara Soetta

Terminal 3 bandara Soetta

Bawaan ke Oz & NZ

Bawaan ke Oz & NZ

Sarapan saya pagi itu adalah nasi lemak palembang yang sudah saya pesan ketika saya membeli tiket pesawat secara online. Saya hanya ingin tidur, rasanya saya enggan untuk sarapan akibat kepala saya yang pening. Tapi mau gak mau saya harus sarapan karena panjangnya perjalanan yang akan saya tempuh hari itu. Bukan apa-apa sih, saya cuma takut kebelet pup doang hahaha.

My breakfast in QZ 202

My breakfast in QZ 202

Nasi Minyak Palembang

Nasi Minyak Palembang

Penerbangan selama 2 jam-an itu gak kerasa lama, sesampainya di bandara internasional kuala lumpur saya mengistirahatkan badan saya sejenak, saya nggak kuat gendong ransel. Jadi kebanyakan duduk aja. Saya cuma beli air mineral dan duduk di kursi sambil tidur-tiduran. Suasana natal sudah terasa di bandara kuala lumpur.  Saya transit selama 3 jam 55 menit. Cari posisi paling nyaman dan kursi paling empuk dengan senderan kepala yang tinggi dan jauh dari pandangan orang-orang yang lewat sambil mengangkat kaki dan istirahat aja gituh.

Suasana natal di KLIA

Suasana natal di KLIA

Salah satu sudut di KLIA

Salah satu sudut di KLIA

Setelah beberapa jam menunggu akhirnya tiba juga saatnya bagi saya untuk menuju ke gate yang akan mengantarkan saya ke pesawat yang akan membawa saya ke Melbourne. Setelah melewati pemeriksaan x-ray saya berjalan menuju gate dan mampir ke salah satu cafe yang menjual cemilan. Saya hanya membeli air mineral buat bekal di pesawat. Saat akan memasuki gate saya kebagian diperiksa sama petugas airline yang rese, keturunan indihe.

Penerbangan yang kedua ini akan memakan waktu kurang lebih selama 7 jam dan di pesawat ga ada inflight entertainment. Saya cuma bisa berjuang buat tidur tapi gak bisa tidur. Saya kebagian tempat duduk di samping jendela bersama 2 orang bule oz dan inggris. Saya paling mungil sendirian diantara mereka, biasanya kaaaaan enggak,seneng deh hahaha.

My dinner in Air Asia X (D7 212)

My dinner in Air Asia X (D7 212)

Nasi Lemak Pak Naseer

Nasi Lemak Pak Naseer

Di Pesawat dalam perjalanan menuji Melbourne

Di Pesawat dalam perjalanan menuju Melbourne

Saat mengisi arrival card saya udah gak kebingungan lagi ceklis barang apa yang mau dideclare. Saya cuma bawa sambal terasi sachet doang, gak bawa abon, kayak biasanya jadi aman haha. Waktu mau nulis saya ditawarin dipinjemin pulpennya mbak bule oz di pojokan, saya kan udah bawa pulpen hehe. Padahal saya garing banget waktu di pesawat, pengen ngajak ngobrol mas dan mbak di samping saya tapi mereka pada tidur, gampang banget tidurnya saya sampe sirik sendiri.

Ketemu lagi sama Arrival Card-nya Australia

Ketemu lagi sama Arrival Card-nya Australia

Kelihatannya tenang, padahal berisik banget sama suara 2 orang di belakangku

Kelihatannya tenang, padahal berisik banget sama suara 2 orang di belakangku

Saya hanya membawa uang sebanyak 100 dolar Australia ketika saya transit di Melbourne dan Sydney 2 bulan yang lalu, itu juga sisa dari tahun 2013. Cukup?? Enggaklah! Kok bisa survive di negara yang terbilang mahal untuk ukuran backpacker kere seperti saya? Rejeki anak sholeh hahaha.

Karena tujuan utama saya adalah New Zealand, saya nggak banyak mikirin Australia. Saya bahkan nggak bikin itinerary selama 24 jam di Melbourne, saya nggak googling bagaimana cara mencapai pusat kota, saya nggak googling hostel buat istirahat selama di Melbourne, bahkan saya nggak tau saya mau ngapain ke Melbourne. Alternatif pertama saya kalo nggak dapet tempat tinggal gratis adalah bermalam di bandara Tullamarine. Saya nekad aja deh mau tidur di mana yang penting judulnya gratisan. Saya mah siapa atuh, buat makan aja susah apalagi buat nginep di hostel.

Kenapa saya lemas dan gak bisa tidur sampe 4 malam? Karena saya mau bungy jumping, tapi akhirnya saya memutuskan untuk gak jadi bungy jumping karena saya cemen hahaha!

Tips Menikmati Kesendirian versi Bawangijo

Menikmati kesendirian di Kaikoura

Menikmati kesendirian di Kaikoura

Hari ini hari apa sodara-sodara??? Iyakkk bener! Hari ini hari valentine sabtu. Buat kalian yang jomblo jangan bersedih dan berputus asa gitu dong. Kalian bisa merayakan hari sabtu ini bersama dengan teman-teman atau keluarga tercinta di rumah. Kongkow bareng ke warteg, nge-mall bareng buang-buang gaji, atau sekedar nyapu-ngepel-bebenah di rumah juga bisa.  Emangnya saya, ditinggal sendirian di rumah sama ibuk dan bapak selama semingguan ini hiks. Seumur-umur baru kali ini saya ditinggal di rumah sendirian dan tidur sendiri di rumah yang sunyi, biasanya saya yang ninggalin mereka ke luar kota. Ternyata gak enak ya ditinggal sendirian, saya kangen masakan ibuk. Kalo lagi sendirian di rumah saya langsung nyetel radio keras-keras atau nyalain tv dengan suara agak keras, supaya rame aja gitu (aslinya takut padahal).

Beberapa minggu yang lalu saya baru aja kelar nonton drama korea The Birth of a Beauty sebanyak 20an episode, drama itu saya selesaikan dalam waktu 1 minggu. Ada 1 kalimatnya Han Tae Hee dan Sa Geum Ran yang bikin saya ngakak, “Kita memiliki 3 kesamaan, yaitu kecantikan semesta, kejeniusan dan lubang yang dalam di hati!” Lubang yang dalam di hati??? Iyakk kata orang yang sudah menikah, para lajangers itu sesungguhnya memiliki lubang yang dalam di hati, liat aja status di socmed-nya kebanyakan isinya yang galau-galau gitu, kayak postingan ini sesungguhnya hahahaha #ngaku

Beberapa hari yang lalu saya dikirimin link tentang seseorang yang bunuh diri karena kesepian melalui whatsapp oleh kakak saya. Kata dia, “Makanya buruan cari suami, awas lo bunuh diri!” Ebuset!!! Hidup terlalu indah untuk disia-siakan kakagh! Daripada bermuram durja nestapa merana kesepian gak ada tujuan hidup menunggu seseorang yang belum kunjung datang mendingan juga menikmati hidup. Tapi bagaimana????

Yang pertama, kurangi mendengarkan lagu-lagu galau kayak lagunya Kunto Aji ‘Sudah Terlalu Lama Sendiri’. Beneran dah saya baru tau ada lagu ini minggu lalu dan tiba-tiba saya tertohok hakdezigggg berasa kayak disentil, abis itu saya galau berkepanjangan dan sedih gitu huaaaaa. Biasanya juga gak begitu. Dengerin lagu-lagu yang bikin kamu hepi, kayak lagunya Tulus, lagunya Ran, 2NE1, Becky G, Taylor Swift, Maroon 5 dan lagu-lagu menyenangkan lainnya. Saya lagi suka lagunya Andy Grammer Back Home sama lagu-lagunya Colbie Cailat, karena lagu-lagu itu mengingatkan saya akan mantan roadtrip NZ tahun lalu. Jadi sambil dengerin lagu sambil ngayal lagi di mana sama siapa sedang apa gitu hahaha.

Yang kedua, cari kesibukan. Iyakkk kamu harus selalu sibuk supaya lupa kalo kamu ini jomblo akut kayak saya. Kalo kamu punya pekerjaan, yaudin kerjain aja kerjaan kamu dengan sungguh-sungguh, tapi gak perlu sampe lembur. Kalo udah waktunya pulang kerja kamu harus pulang, jangan menenggelamkan diri dalam pekerjaan sampai larut malam. Ingat, kalo kamu ini punya kehidupan diluar pekerjaan. Kata siapa lajang gak punya kehidupan diluar kehidupan kantor. Kamu masih punya gebetan yang bisa digangguin kan? Kamu masih punya orang tua yang menunggu kamu di rumah kan?
Kamu masih punya ibu kost yang nagih uang kos bulanan ke kamu kan, ehhh ini lain lagi ceritanya.

Yang ketiga, bergaul. Sering-sering bergaul bersama teman, cari komunitas baru kayak komunitas backpacker, komunitas blogger, komunitas pecinta bahasa korea, komunitas menyulam, komunitas menjahit, komunitas ghibahhh juga boleh hahahaha. Kalo saya lagi asik sama komunitas skripsi, jadi tiap hari minggu kami kumpul bareng buat belajar kelompok menyelesaikan laporan dan program skripsi, bahkan kami sampe nginep-nginep buat belajar kelompok, udah 5 bulan berjalan akhirnya skripsinya kelar juga, Alhamdulillah.

Yang keempat, traveling. Siapa tahu dengan traveling kamu bisa menemukan jodoh kamu. Atau paling  tidak dengan traveling kamu bisa lebih menghargai hidup yang kamu miliki dan gak akan pernah kepikiran yang aneh-aneh. Kamu bisa melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan sehingga kamu merasa beruntung bisa mengunjungi tempat-tempat yang istimewa itu. Atau ketika kamu mendatangi suatu tempat yang keadaannya tidak lebih baik daripada negara yang kamu tinggali, kamu bisa bersyukur betapa beruntungnya kamu tinggal di negara seperti Indonesia ini dengan kekayaan alam yang melimpah, kekayaan cita rasa kuliner yang tiada duanya, kekayaan budaya, adat-istiadat dan bahasa, walaupun kamu masih sering mengeluh dikelilingi macet dan banjir ketika turun hujan berhari-hari. Cobalah melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tahukah kamu kalo di Papua sendiri ada ratusan bahasa daerah yang bahkan tidak dimengerti oleh orang papua sendiri, beda daerah beda bahasa. Kemaren saya baru nanya ini ke teman saya.

Yang kelima, cari pacar!! kenalan yang banyak, supel, perbaiki penampilan dan membuka diri. Ini tips buat diri saya sendiri aja sih hahahaha. Kalo dipikir-pikir bener juga ya lagunya Kunto Aji itu, “Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama asik sendiri, lama tak ada yang menemani rasanya…” Iya keasikan sendiri, asik bekerja, asik traveling, asik dengan kesibukan, asik dengan kesendirian dan sampe lupa sama umur waduh gawat. Ini kayak lagi diingetin aja sih haha.

Kalian ada yang mau nambahin tips supaya gak ngerasa kesepian?