Aurora Bucketlist

Foto dari @traveloverdose

Foto dari @traveloverdose

Ahaa, mari kita menghayal!! Sekarang saya mau ikutan posting tempat-tempat yang pengen saya datengin di bumi kita yang tercinta ini. Sejak dulu saya sudah tertarik dengan pelajaran geografi, ilmu per-peta-an, per-tiket-an dan perjalanan.

Sejak beberapa bulan yang lalu tiba-tiba saya merasa hampa, kosong dan nggak semangat. Nggak semangat karena belom punya rencana perjalanan. Sekarang pun masih sama, saya belom tau pengen ke mana, sama siapa dan ngapain.

Sekarang saya lagi penasaran sama fenomena yang bernama aurora. Saya lagi seneng liatin foto dan youtube panampakan aurora. Kalo liat gituan tuh rasanya kok antara penasaran, takjub, takut dan merinding. Pikiran saya melayang ke luar angkasa yang dihuni oleh jutaan alien yang siap menyerang bumi, hiiiy.  Jaman dulu saya pernah liat tayangan tv semacam Discovery Channel tentang aurora borealis, entah berapa lama waktu untuk pengambilan gambarnya sehingga bisa liat kemunculan aurora, mikirin amat. Dulu tuh waktu liat di tv saya merinding, saya takuttt, beneran lho. Sekarang saya malah penasaran sampe nggak bisa tidur gara-gara si aurora ini.

Saya baru tau kalo ternyata selain aurora borealis, ada juga aurora australis. Nah sebelum berangkat ke Selandia Baru saya sempat browsing tentang aurora australis atau southern light yang bisa dijumpai di Australia dan Selandia Baru. Konon katanya, salah satu tempat yang bisa dijumpai aurora australis adalah di Lake Tekapo, tempat saya nginep hari pertama di New Zealand.  Aurora australis itu nggak bisa muncul sewaktu-waktu, kita bisa liat prediksi kemunculan aurora melalui prakiraan cuaca (forecast aurora), ada rumusnya gitu deh, saya nggak mau cari tau sekarang, lagi mumet.  Tadinya pas nginep di Lake Tekapo saya kepengen keluar kamar dan liat bintang, kali aja nemu aurora, tapi baru mau melangkahkan kaki ke luar aja saya udah kedinginan, nggak tahan dingin akhirnya saya balik masup kamar dan selimutan sampe ketiduran haha.

Selain di Australia dan New Zealand, aurora juga bisa dijumpai di belahan bumi bagian utara *tunjuk peta*. Sayangnya untuk mencapai belahan bumi bagian utara diperlukan biaya yang jauh lebih besar lagi. Kalo Northern Light bisa dijumpai di negara-negara skandinavia atau di Norwegia, Swedia (kali), Islandia, Alaska dan nggak tau lagi di mana sekitar bulan Oktober sampai bulan Maret. Saya ngarep banget bisa mengunjungi salah satu negara tersebut, tapi bagaimana mungkin, saya nggak punya pintu ajaibnya Doraemon.

Sekarang ini sebenernya udah ada paket tur yang menjual paket wisata aurora. Saya pernah liat budget tour selama 1 minggu biayanya itu USD 2.000, wuihhh. Itu udah budget, gimana yang lux ya. Kalo saya yang berangkat nggak pake tur juga biayanya mungkin sama segitu juga. Tiket ke Iceland aja udah mahal, di sananya juga harus pake tur (atau sewa mobil). Kalo mau tiket yang agak murahan kudu pake ilmu matematika dan luck. Kalo dari Eropa, sebenernya harga tiket ke Reykjaviknya itu murah, yang mahal adalah biaya lain-lain kayak pajak, bahan bakar, dan masih banyak lagi. Saya nemu tiket termurah ke Reykjavik seharga 1 juta rupiah, tapiiii dari Dusseldorf, wedew! Saya juga pengen banget ke Norwegia, tapi mihilllll hihi.

Sepertinya saya harus menyimpan bucketlist saya ini untuk beberapa tahun mendatang, perlu modal dan usaha yang banyak. Kalo dipikir-pikir, sayang juga ya buang-buang duit banyak buat jalan-jalan, mendingan buat DP nyicil KPR haha. *tumben bener*

Sementara ini saya udah bahagia bisa liat foto aurora borealis melalui internet dan youtube. Boong bangeeeeet!! Masih pengen ke Islandia ding haha *maksa* :-P

Foto dari @traveloverdose

Foto dari @traveloverdose

Merindinggg! Foto dari @traveloverdose

Merindinggg! Foto dari @traveloverdose

Masih di Islandia. Foto dari @traveloverdose

Masih di Islandia. Foto dari @traveloverdose

YHA Lake Tekapo

New Zealand, New Zealand! Saya mau posting tentang New Zealand lagi nihh, hehe. Saya belom bosen ngomongin New Zealand.

Ok, hari pertama di New Zealand, setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan intercity bus selama 3,5 jam-an (jaman es, jaman batu, jaman purba) dari Christchurch International Airport akhirnya saya tiba di Lake Tekapo. Apa sih yang special dengan Lake Tekapo sehingga memasukan Tekapo di hari pertama dalam itinerary saya? Lake Tekapo kan cuma danau biasa doang, tapi saya jatuh cinta dengan Lake Tekapo sejak beberapa tahun yang lalu. Saya sering googling dan menyimpan foto Lake Tekapo di komputer buat motivasi saya supaya bisa berangkat ke New Zealand.
Ketika akhirnya benar-benar menginjakan kaki di Lake Tekapo, perasaan saya bercampur aduk, antara lapar dan haus karena belum sarapan dan senang bercampur bahagia karena mimpi jadi kenyataan. Akhirnya, akhirnya saya sampe ke siniiii. Saat turun dari bus mata saya langsung dimanjakan oleh birunya danau yang membentang luas di hadapan saya dengan langit yang jernih. Alhamdulillah…

Setelah turun dari bus kami berjalan kaki untuk mengambil brosur di pusat informasi dan berjalan kaki sejauh beberapa puluh (atau ratus?) meter untuk menuju hostel yang telah kami booking 2 bulan sebelumnya. Di Tekapo saya menginap di YHA Lake Tekapo. Hostel yang berukuran mungil terletak di 3 Simpson Lane, lokasinya paling dekat dengan tempat pemberhentian bus. Di sekitaran hostel ini masih ada hostel lain, tadinya saya mau nginep di hostel sebelahnya tapi setelah membaca review di hostelworld saya mengurungkan niat saya dan lebih memilih menginap di YHA Lake Tekapo, walaupun harganya lebih mahal beberapa dolar.

Saat masuk ke dalam hostel kami disambut oleh mas-mas yang berdiri dibalik meja resepsionis dan menyapa kami dalam bahasa inggris, ya iyalah masa bahasa jawa. Setelah menunjukan scan-an bookingan hostel dari hape, kami ditanya akan membayar dengan kartu kredit atau cash. Saya pilih cash donk, kan duitnya masih banyak haha *ditabok*
Saat booking saya memilih kamar dormitory dengan kapasitas 5 orang yang hanya boleh ditempati oleh cewek dengan harga 38 dolar. Saat masuk ke kamar, saat itu baru ada 1 orang cewek yang menempati kamar kami. Cewek Australia yang berasal dari Brisbane ini sendirian jalan-jalan ke New Zealand, wuihh. Saya memilih kasur di atas (bunk bed), sedangkan teman saya di bawah. Badan saya panjang, kepala saya takut kepentok pas bangun tidur kalo tidur dibawah, jadi saya pilih kasur nomor 2. Kamar yang kami tempati ini ukurannya mungil banget, tapi nggak pengap dan lumayan nyaman.
Selain kami ber-3, beberapa saat kemudian datanglah ibu-ibu Jepang dan 1 orang cewek Jepang lainnya, masih muda. Ibu Jepang ini ramah, dan nampaknya agak kesulitan berkomunikasi dalam bahasa inggris. Kami memulai perkenalan dan ngobrol sebentar. Si ibu ini datang ber-2 dengan suaminya dan dalam perjalanan menuju Christchurch. Mereka mau mengakhiri perjalanan, sedangkan kami baru memulai perjalanan.

Setelah meletakan barang bawaan dan beristirahat sejenak, kami pun mulai keluar buat cari makan siang dan belanja di minimarket. Kami mampir ke restoran cina dan memesan nasi goreng. Sebenernya saya agak was-was kalo ke restoran cina, saya takut kemakan B2 doang. Nggak cuma di restoran cina aja, di restoran jepang, dan restoran lain juga banyak menyajikan menu B2, hiks.

Setelah kenyang makan dan beli bahan makanan, kami kembali lagi ke hostel buat meletakan belanjaan dan siap-siap ngambil kamera buat mengabadikan pemandangan Lake Tekapo. Kami jalan-jalan di sekitaran Lake Tekapo menuju The Church of The Good Shepherd, Setelah dari gereja kami niatnya pengen ngaso di bangku taman, tapi keduluan sama bapak-bapak. Udah tanggung juga, akhirnya kami duduk bareng dan ngobrol deh.

Kami manggilnya Om Gavin, ternyata dia adalah seorang pengusaha catering yang memiliki hobi fotografer. Sebelumnya saya liat si om jalan-jalan sendirian sambil jeprat-jepret pake kameranya. Keliatan banget penghobi fotografer, kameranya gede buanget dan berat kayak teropong. Saya bukan pecinta fotografi jadinya nggak ngerti itu kamera jenis apaan. Saya sempet nyobain pegang kameranya dan coba-coba liatin lensanya, keren dehh. Setelah ngobrol panjang lebar, kami ditawarin buat main ke peternakannya yang terletak di nggak jauh dari Christchurch (kalo sempet). Si om ini berbaik hati nulisin alamat dan nomor teleponnya, kalo misalnya suatu saat nanti kami pengen mampir ke rumahnya dan merasakan kehidupan lokal warga Selandia Baru. This is the reason why I love backpacking traveling, kamu tidak pernah tau akan bertemu dengan siapa. Sukur-sukur ketemu jodoh, amin amin!

Lanjut ke cerita hostel lagi ya. Kalo lagi nggak di luar saya paling sering bolak balik ke toilet cewek, ngapain? Internetan haha. Di toilet koneksi internetnya kenceng banget! Saya iseng-iseng foto pengumuman pada selembar kertas yang ditempel di pintu toilet.

Sebenernya nggak ada yang istimewa pada YHA Lake Tekapo ini, ukuran hostelnya mungil, kamarnya mungil, dapurnya lumayan luas, biasa aja gitu. Yang luar biasa adalah pemandangan di belakang hostelnya keren banget, langsung menghadap Lake Tekapo dan Mt. John di kejauhan. Saya suka duduk-duduk di ruang ngumpul sambil memandang bunga mawar dan danau di kejauhan, sambil sesekali liatin bebek yang seliweran di taman. Pemandangan yang kayak gini nih yang bikin saya betah berdiam diri di YHA Lake Tekapo.

YHA Lake Tekapo

YHA Lake Tekapo

My room

My room

Penghuni hostel

Penghuni hostel

Lorong menuju kamar

Lorong menuju kamar

pemandangan sekitar hostel

pemandangan sekitar hostel

Weekend Menyenangkan Versi Bijo

Bluff

Bluff

Yay udah hari sabtu aja nihh, wiken ini kamu ngapain? Semenjak selesai kuliah saya udah nggak punya kegiatan lagi saat akhir pekan. Bosen? Iyaahhh, wiken palingan saya cuma diem aja di rumah aja, udahh gitu doang.  Tapi walaupun nggak ngapa-ngapain saya enjoy kok.

Sekarang saya udah nggak lesu lagi, wiken kali ini saya isi dengan ngejogrog di depan laptop , modalnya cuma koneksi internet dan peta di google map doang. Saya lagi seneng bikin itinerary perjalanan sampe kepala saya migren, migren karena harga tiket selangit, dolar melambung tinggi dan makin sulit kejangkau pake rupiah haha. *stress*

Jadi daripada ngelamun mendingan juga produktif , dimulai dengan posting blog, nyuci gelas, nyuci, botol Tupperware, nyuci tas, ntar lanjut nyuci odong-odong.

Oh iya, tadi saya nyuci tas selempang yang udah lama banget nggak dipake. Nahh pas mau nyuci tas, semua isi tas saya keluarin dan tahukah kamu apa yang saya temukan di dalam sudut saku tas? Duit! Saya nemu duit! Iyakk duit!! Lima rebu perak doang tapi haha, seneng banget deh. Selain itu, saya nemuin selembar kertas berwarna kuning yang dilapisi plastik. Hmm, mencurigakan! Setelah saya rogoh dalam-dalam saku tas dan menggapai plastik itu, ternyata saya menemukan.. STNK! STNK siapa coba. Di rumah cuma punya 3 STNK doang, STNK motor entah ke mana karena motornya bukan pegangan saya, STNK saya ada di ransel, trus ini STNK siapa?

Setelah saya perhatikan dengan seksama dan membaca tulisan yang tertera dalam STNK itu, ‘Suzuki’ ternyata itu adalah STNKnya si Suzuki. Bukan si Suzuki yang punya haha, tapi ini STNK punya kakak saya yang udah ilang setaun lebih. Keren nggak tuh, ilang setaun trus ketemu lagi. Nggak tau dah dia selama ini ke mana-mana pake STNK ato enggak. Ce-ro-boh.

Lanjut ke itinerary, saya belom punya tujuan mau ke mana dan mau ngapain. Iseng aja bikin kali aja ada lomba bikin itinerary yang hadiahnya jalan-jalan. Keisengan saya mulai dengan mencari tiket pesawat ke Keflavik International Airport. Gilak, ini tiket pesawat ke tempat yang jauh banget kayak gini harganya selangit. Bermimpi aja saya nggak berani, kan cuma iseng doang haha. Minggu lalu saya ketemuan dengan cowok italia yang kerja jadi air crew emirates, ganteng banget dah haha, fokus!! Saya iseng-iseng nanya ke dia apakah ada penerbangan langsung ke Keflavik, dan ternyata untuk airlines besar sekelas Emirates aja nggak ada rute langsung ke sana, karena pasarnya sedikit (katanya). Palingan disambungin sama airline partnernya. Etihad, juga nggak ada. Rute termurah ke sana adalah melalui negara terdekatnya, ya kali dari Jakarta. Nah lo kudu beli tiket dulu tuh ke Inggris atau Norwegia atau Denmark! Wuihhhh. Kapan saya dikirim ke luar negeri yak? Kerja dulu di kemenlu gihh!

Oh iya, ada nggak sih kerjaan part time yang bisa dilakukan saat weekend di Jakarta? Kan lumayan. Kalo saya masih di Oz mah saya mau ngelamar kerja part time. Lumayan banget perjam dibayar 20an dolar, disuruh nyuci piring, bersihin kamar apartemen juga saya mau, seriusan dah. Kalo yang di sini sih, kayaknya paling enak jadi penterjemah freelance atau jadi guru les private ngajarin bahasa Indonesia buat orang korea, tapi saya nggak bisa bahasa korea. Saya penasaran pengen liat gimana cara kerjanya, pengen ikut Fisra ngajar korea dah. Di kantor saya suka sesekali iseng-iseng ngajarin bahasa korea sama temen-temen pake papan white board sambil corat-coret Hangeul, tapi iseng doang, saya seneng deh. Siapa yang mau saya ajarin bahasa korea tingkat dasar? Perjamnya cukup 20 dolar Australia mwahahaha.

Wiken menyenangkan versi Bijo adalah bengong sambil liatin tiket pesawat. Jadi, wiken saya ini cuma diem aja di kamar, tapi pikiran saya melayang ke bagian lain dunia. Kebanyakan ngayal, gilak lo. *matiin laptop*

Belajar Travel Light

Backpack Bijo

Backpack Bijo berisi mini rice cooker di KLIA2

Saya lagi mikir nih, kepengen banget travel light yang bener-bener light, tapi kepengen juga tetap gaya supaya keliatan bagus difoto. Sayang kan udah jalan-jalan jauh ke tempat keren tapi pas difoto nggak keliatan bagus karena warna bajunya nggak cerah, kan cedih, kapan lagi bisa ke sana.

Masalahnya, kalo lagi bepergian pas musim gugur atau musim dingin nggak mungkin banget barang bawaan cuma seberat 7 kg, apalagi kalo perginya sampe 3 minggu.  Jaketnya aja udah berat sendiri, belom lagi printilan lainnya. Sebagai orang yang tinggal di negara tropis yang nggak pernah ngerasain musim dingin, pasti pengen kan keliatan gaya (dan tetap hangat) kayak cewek-cewek korea dengan mengenakan pakaian yang nyaman dan enak dipandang kayak coat, syall, dan sepatu boot hehe.

Saya sendiri sebenernya lebih memilih ransel demi kepraktisan daripada harus bawa koper selemari. Kalo bepergiannya nggak banyak pindah tempat dan berganti transportasi massal yang banyak mungkin gpp sekali-kali bawa koper, tapi kalo banyak berpindah tempat saya agak bingung juga, turun naik tangga dan nggak mungkin juga sering-sering nitipin koper ke loker bandara atau stasiun terus-terusan karena biayanya mahal hihi.

The Lighter You Travel, The Cheaper.
Kalo banyak bepergian dengan menggunakan budget airlines dan nggak mau keluar duit buat beli bagasi, alangkah lebih baiknya membawa barang yang sedikit, cukup 1 buah ransel atau 1 buah koper kecil aja. Kalo naik pesawat cuma sekali, beli bagasi sih nggak kerasa bayarnya. Tapi kalo sampe berganti naik pesawat sebanyak 4 kali pergi-pulang, biaya bagaisnya kan lumayan. Udah aja naik fullboard airlines. Saya sering stress sendiri setiap check in di bandara, takut ransel saya ditimbang dan melebihi batas bagasi kabin yang cuma 7-10 kg doang. Maklum, saya kan mampunya beli tiket budget airlines doang hehe.

Waktu naik Tiger Air dari Brisbane ke Sydney pp, saat check in semua barang bawaan kami ditimbang oleh mbak petugas check in, dan alangkah terkejutnya saya waktu ransel saya ditimbang angkanya hanya menunjukan 5 kg, tumben nih, bukan gue banget. Waktu pulang dari Sydney bagasi teman-teman saya semuanya overweight dan harus membayar biaya bagasi yang lebih mahal dari harga tiketnya.

Lain lagi cerita teman saya yang lain, dia sudah naik pesawat fullboard airlines (Singapore Airlines) tapi tetep aja bagasinya overweight dan kudu bayar 200-300an dolar saya lupa, nyesek banget nggak sih. Waktu berangkat ke Brisbane dulu juga koper saya beratnya segambreng, saya sampe nggak kuat ngangkat koper saya buat pemeriksaan x-ray, untungnya badannya abang petugas Custom and Border Protection guedhe-guedhe jadi bisa minta bantuin angkat koper.

Waktu ke New Zealand saya beli tiket pesawat ketengan (satu-persatu, nggak pp) budget airlines dan nggak pake bagasi check in, makanya saya agak pusing waktu packing sambil ngakalin gimana caranya supaya bagasinya nggak melebihi 10 kg. Saya udah takut aja pas check in bagasinya ditimbang kayak waktu naik Tiger. Ternyata naik Air Asia, Virgin Australia Airlines dan Air New Zealand bagasinya itu nggak ditimbang pas check in. Saya kan pilih jenis tiket yang paling irit, jadi nggak dapet bagasi check in.

Saya seneng gendong ransel tiap jalan-jalan, tapi kalo ranselnya berat saya ngerasa kesulitan sendiri. Ya kali gendong ransel dengan berat seperempat badan, gimana nggak pegel pungungnya. Idealnya sih gendong ransel 8 kilogram itu cukup kali ya.

Barang bawaan saya setiap traveling cuma tas selempang dan ransel. Tapi se-light-light-nya traveling kalo bawa mini rice cooker dan kamera SLR, nggak mungkin bisa light. Akhir-akhir ini barang bawaan saya saat traveling bertambah, saya bawa kamera SLR yang beratnya segambreng dan mini rice cooker (baru sekali doang). Iyaaa, mini rice cooker haha! Buat apa coba? Kalo jalan-jalannya ke sekitaran Asia yang makanannya pas dilidah saya sih asik-asik aja makan di luar tapi  kalo yang makanan utamanya roti dan keju-kejuan saya kan bingung, maklum lidah kampung hehe. Saya sering kecolongan makan pork setiap traveling, makanya supaya aman mendingan masak sendiri aja dah (kalo sempet), kalo enggak ya jajan juga, eh kemakan lagi dah b2. Sebenernya sih supaya hemat aja masak sendiri haha. Kamera SLR bukan buat gegayaan juga sih, saya nggak punya kamera lain makanya mau gak mau kudu bawa kamera itu supaya gambarnya agak tajem-an dikit. Dikiiiiiiit..

Waktu lagi di Queenstown saya liat cewek-cewek bule yang bawa ransel gede dan banyak. Badan mereka mungil tapi kuat banget bawa ransel berat, kereeen. Di punggung mereka gendong ransel gede, di depan ransel kecil, di bahu masih ada tas-tas lainnya. Mungkin mereka keliling dunia kali ya. Kalo saya sih nggak kuat bawa ransel seberat dan sebanyak itu.

Saya lagi seneng liatin youtube tutorial packing ringkes dan ringan, saya sampe kagum juga liat mereka bisa packing light dan tetap gaya saat traveling, pinter deh padu-padannya. Ada yang mau kasih saya tips gimana supaya bisa travel light..

Franz Josef – Hokitika [NZ Road Trip]

:-)

Dunno where, otw ke hokitika pastinya  :-)

H-3 sebelum menyelesaikan perjalanan di New Zealand kami memutuskan untuk mengunjungi Kaikoura. “Kaikoura? Di mana pula itu!” Tanya saya dalam hati setelah membaca pesan di whatsapp. Setelah browsing atraksi menarik dan melihat lokasi Kaikoura melalui Google Map maka saya pun setuju untuk singgah di sini. Ohh ada paus, baiklah! Dulu saya agak pusing ngakalin gimana caranya supaya kami bisa ke Kaikoura ini. Christchurch adalah titik awal untuk memulai dan mengkahiri perjalanan kami selama di New Zealand, dan sebagian besar waktu kami dihabiskan di bawah Christchurch sampai paling bawah paling ujung selatan pulau selatan Selandia Baru (bukan stewart island). Sedangkan Kaikoura ini letaknya di atas Christchurch. Liat peta yah..

Setelah menganalisa itinerary kami, maka saya memutuskan untuk memasukkan Kaikoura ke dalam urutan terakhir petualangan kami selama 12 hari di New Zealand. Ok, Kaikoura, Christchurch and home. Itulah urutan terakhir perjalanan kami.

Sebelum ke Kaikoura kami bermalam selama 2 malam di Franz Josef. Jarak dari Franz Josef ke Kaikoura ini setara dengan rute mudik saya dari Tangerang ke Jogjakarta, edyann. Rute roadtrip Franz Josef – Kaikoura ini adalah rute yang paling panjang selama roadtrip, biasanya kami hanya berkendara maksimal selama 5-6 jam, namun kali ini kami berkendara lebih dari 10 jam selama seharian penuh sejauh 500an kilometer lebih!

Kami memulai perjalanan dari Chateau Franz Backpackers jam 10 pagi, nggak lama kemudian kami melipir ke pom bensin dan langsung isi bensin. Dan tahukah kamu, harga bensin di Franz Josef ini paling mahal dibandingkan dengan harga bensin di kota lain, 2 dolar lebih per liter. Waktu masuk ke minimarket dan melakukan transaksi di kasir saya agak nyesek pas liat struknya, maaaaak mahal bingit, nggak bisa beli makan dehhhh. Wajar sih karena lokasinya terpencil di hutan makanya mahal, masih untung nemu pom bensin di sana.

Gerimis dan kabut yang pekat setia menemani perjalanan kami pagi itu. Mata saya tidak berhenti memandang 1 buah wiper panjang yang bergerak tanpa henti menghapus tetesan rintik hujan di depan mata saya sampai terhipnotis dan tertidur. Pagi itu yang bertugas sebagai sopir pertama adalah Janti, sedangkan saya hanya bertugas ngelapin kaca depan mobil supaya nggak berembun. Sepanjang jalan kami hanya memandang hutan hijau di sisi kanan kiri jalan, adem banget. Cuaca mendung, gerimis, kabut dan udara yang dingin merupakan kombinasi yang sempurna untuk membuat kami tertidur lelap. Dinginnya hutan di Westland Tai Poutini National Park tidaklah sedingin hatiku yang hampa. Etdahhh curhat lagi dah haha.

Cuaca yang kayak gini nih yang bikin jadi melow, nestapa, durjana dan bikin ngantuk gak karuan. Saya berusaha supaya nggak tertidur sepanjang jalan. Minta dijitak kali kalo saya sampe tidur lelap sementara ibu sopir di sebelah saya nahan ngantuk sambil nyetir. Untuk mengusir kantuk kami nyanyi-nyanyi sambil teriak di dalam mobil. Pas tiba giliran lagunya Judika yang judulnya Aku yang Tersakiti kami mendadak jadi galau. Seakan-akan 2 cewek yang abis diputusin memutuskan untuk lari dari kenyataan ke New Zealand. Saya nggak suka lagu ini, sedangkan si cici demen banget haha. Ok, your wish is my command, madam. *Puterin lagunya Judika lagi*

Beberapa jam kemudian gerimis dan mendung pun berganti menjadi panas, matahari nampaknya tidak malu-malu lagi menyinari cahayanya di sela-sela pepohonan di sepanjang jalan di Taman Nasional. Cerahnya matahari kembali membangkitkan semangat kami dalam perjalanan yang sangat panjang itu. Saya liat ada 1 orang yang bersepeda di pinggir jalan raya diantara hutan sekali. Saya mikir dari mana datangnya orang itu. Masak sepedaan di jalanan super sepi begitu, mau ke mana coba, gak ada perkampungan, gak ada rumah, gak ada apa-apa di sepanjang jalan, trus nanti kalo bannya bocor pas ngelindes paku gimana yak. Atau kalo nanti diculik monster di balik hutan gimana. Pusing amat saya mikirin, dia aja nggak pusing haha.

Ada 2 cara untuk menuju Kaikoura yaitu melalui Hokitika – Otira – Arthurs’s Pass Oxford – Rangiora – Waikuku dan masih panjang lagi. Yang kedua adalah melalui Greymouth – Victoria Forest Park dan masih panjang lagi. Kami lebih memilih alternatif pertama dengan harapan bisa melihat jembatan Arthur’s Pass. Tapi sebelumnya kami harus melewati kota Hokitika, the cool little town, yang berjarak 40 kilometer dari Greymouth. Nggak ada yang special di kota kecil ini, kami mampir ke Hokitika Cuma untuk melipir ke Hokitika Gorge dan beli makan siang.

Di peta google map dan GPS kami nggak nemuin lokasi pasti Hokitika Gorge. Untungnya di Hokitika ada pusat informasi yang lumayan lengkap dan gede, kami mampir ke pusat informasi untuk ngangetin badan dan bertanya cara menuju Hokitika Gorge. Pantes aja nggak nemu dipeta, lha wong terpencil banget lokasinya. Kami main sebentar di Hokitika, berjalan kaki untuk ngelemesin badan yang mulai pegel karena kelamaan di mobil. Mampir sebentar ke kedai Fish and Chips buat beli bekal makan siang. Saya ngiler liatin es krim, jadi malah beli es krim dan dimakan sambil jalan kaki. Ealahhh summernya kok dingin banget yak, tangan saya gemeteran gitu pas megangin es krim.

Saat mencari jalan menuju Hokitika Gorge, kami harus melewati perkampungan, peternakan dan jalanan yang sepi bingitss. Kami harus ngarahin GPS satu per satu, per titik tujuan. Di sepanjang jalan cuma ada 1-2 mobil doang, kami sukses ngekor mobil yang jalan di depan kami selama beberapa menit, sambil tetep liatin GPS. Tapi kok mobil itu belok kanan, Hokitika Gorge kan kearah kiri, lho lho!? Ohh mungkin dia mau pulang ke rumahnya kali haha.

Kami mengendarai mobil sendirian melewati got-got kecil, got, sungai kaliiii haha. Domba dan sapi di sekitaran sini gemuk-gemuk, mereka keliatan bahagia banget. Berkumpul sambil makan rumput yang melimpah. Langitnya New Zealand ini jernih banget, cuaca pun semakin cerah menemani perjalanan kami. Saat itu udah masup jam makan siang, perut kami mulai keroncongan. Oh hokitika, hokitika gorge di manakah kamu?

Siap-siap memulai petualangan dari Chateau Franz Backpackers

Siap-siap memulai petualangan dari Chateau Franz Backpackers

Mendung melowwww

Mendung melowwww

Give Way!

Give Way!

The cool little town, Hokitika

The cool little town, Hokitika

Jam gadang Hokitika :-D

Jam gadang Hokitika :-D

DSC_0685

Papasan

Forest Cabin

Milford Sound Lodge

Milford Sound Lodge

Apa yang ada dalam bayanganmu saat mendengar kata forest cabin? Sebuah kabin yang terletak di tengah hutan? Kalo saya sih ngebayanginnya sebuah bangunan yang ada di tengah hutan yang gelap di dalam sana yang sulit untuk diakses dan dipenuhi oleh banyak monster di malam hari yang siap untuk membunuhmu kapan saja. Itu mah film Cabin in the Wood, entah kenapa tiap inget forest cabin ingetnya cabin in the wood haha.

Forest cabin yang ini nggak seserem cabin in the wood, karena lokasinya nggak ditengah hutan banget, masih deketlah sama jalan raya walaupun jalan rayanya itu juga ditengah hutan yang nggak dilalui angkot, ojeg atau becak, Milford Sound Highway. Forest cabin yang mau saya ceritakan di sini adalah forest cabin yang berada di Piopiotahi. Di mana itu Piopiotahi? Namanya kok aneh yaa. Piopiotahi itu adalah nama lain dari Milford Sound. Nah Milford Sound itu adalah bagian dari Fiordland National Park.

Waktu memutuskan mau ke Milford Sound saya kepengen banget nginep di sekitaran sini untuk semalam. Jarang-jarang kan saya mblasuk ke hutan, liat gunung-gunung tinggi muncul dari balik permukaan laut dengan puncak yang sebagian diselimuti salju, wow indahnya. Cita-cita saya dari dulu kepengen ke Milford Sound. Saya agak pening waktu nyari-nyari akomodasi di sekitar sini karena jarang banget ada akomodasi yang sesuai sama budget saya. Emang agak jarang juga nemu penginapan di Milford Sound, hutan banget sih. Waktu googling dan nemu Milford Sound Lodge saya nggak pake mikir lagi, langsung deh booking penginapannya sebelum booking penginapan yang lainnya.

Di Molford Sound Lodge ada beberapa jenis pilihan kamar sesuai dengan kebutuhan. Mulai dari yang termahal Premium Riverside Chalets, Mountain View Chalets, Private Twin/Double Room, dan Backpacker-Styled Room. Saya pilih kamar private twin room yang namanya dulu di website forest cabin, tapi kok sekarang udah gak ada ya yang si forest cabin itu. Padahal ear catching banget tuh.

Kalo buat keluarga enaknya nginep di kamar Premium Riverside Chalets, kamarnya mewah, pemandangannya langsung menghadap sungai dan gunung yang cantik banget, tapi ratenya nggak kuaaaat, summer kena NZD 395 wuihh!! Cocok buat hanimun ini sihh haha.

Saya pilih kamar private (forest cabin)  yang ratenya sesuai kantong, cukup dengan harga NZD 85 (shared bathroom) saya bisa maen-maen ke sungai di depan kamar. Kehalangan si Premium Riverside Chalets sih, tapi dengan jalan kaki dikit saya udah bisa ciprat-ciprut di sungai.

Siang hari setelah check in di penginapan, setelah meletakan ransel kami main ke sungai di belakang Milford Sound Lodge. Waktu lagi jalan-jalan di sini kami ketemu cewek berkewarganegaraan inggris yang nggak keliatan kayak orang bule tapi aksen bahasa inggrisnya britishhhh banget. Seminggu kemudian kami ketemu si mbak inggris ini lagi di Kaikoura. Sungguh New Zealand itu sepi orang hehe. Sebenarnya waktu lagi di sungai saya pengen jalan terus masuk ke hutan, tapi saya takuuuut, nggak ada orang sama sekali di situ, nanti kalo saya diculik bangsa Elf atau Hobbit gimana?! Culik aku donk! Haha

Kelar main-main di sungai sampe kulit muka saya ngelupas (sapa suruh gak pake sunblock), sorenya kami bikin makan malam. Makan malamnya saat matahari masih terang benderang. Aneh nggak sih mataharinya baru ngumpet jam 11 malem. Sebenarnya di Milford Sound Lodge ada café juga, tapi demi menghemat budget buat beli bensin kami memutuskan untuk nggak jajan, lagian emang mahal kan. Dasar pedit haha.

Sore itu kami masak nasi goreng barengan sama tamu lain di dapur umum. Lagi-lagi saya nggak ngerti cara nyalain kompornya, setelah celingak-celinguk dan minta tolong orang di dapur buat nyalain kompor akhirnya saya bisa masak dengan tenang. Di dapur jam makan malam rame bingit, kami harus ganti-gantian pake peralatan masak. Ada sepasang ibu dan anak orang cina yang rebut banget masaknya, duh masaknya nggak pake suara kali, berisik dah. Ada yang Cuma masak daging direbus, ada yang Cuma bikin salad (mana nendaaang), ada yang masaknya ribet tapi kok gak keliatan menarik juga. Saya sambil masak sambil mengamati jenis masakan tamu penginapan, nggak ada masakan yang bikin saya ngiler. Nasi goreng buatan saya adalah masakan paling enak di Milford Sound hehe. Selamat menikmati (foto-fotonya).

Campervan Sites

Campervan Sites

Lorong menuju kamar

Lorong menuju kamar

My room

My room

Dapur umum

Dapur bersama

Kesibukan di dapur

Kesibukan di dapur

Masakan paling enak se-Milford Sound

Masakan paling enak se-Milford Sound :-D

Makan malam paling enak di sini, tapi dinginnya nggak tahan

Makan malam paling enak di sini, tapi dinginnya nggak tahan

Tempat nongkrong di Milford Sound Lodge

Ruang tamu/tempat nongkrong di Milford Sound Lodge

Memandang jendela dari tempat nongkrong, udah malem masih terang benderang

Memandang jendela di ruang tamu, udah malem masih terang benderang

Tempat keren terdekat yang bisa dikunjungi di Piopiotahi

Tempat keren terdekat yang bisa dikunjungi di Piopiotahi

Kali di dekat penginapan. This is the best place i've ever visited

Kalo pilih riverside chalets pemandangannya langsung sungai ini dari depan kamar

Dikelilingi pohon, pohon, pohon dan pohon. I lovin' it

Dikelilingi pohon, pohon, pohon dan pohon. I lovin’ it

Destinasi impian, Piopiotahi..

Cleddau River

New Zealand adalah tempat terindah yang pernah saya kunjungi :-D

Booking di mana?
http://www.milfordlodge.com/

Nggak Ada Alasan Untuk Nggak Jalan-jalan

Bluff, New Zealand

Bluff, New Zealand

Temen kantor : “Eh lo kalo jalan-jalan abis duit berapa jo?”

***

Temen kantor : “Mbak Bijo, daripada buat jalan-jalan mendingan buat biaya masukin anak saya sekolah”

***

Temen kantor : “Joooo, daripada lo ke Nyujilen mendingan juga buat haji ato umroh!”

***

Temen baru kenal : “Ehh lo kerja di mana sih, jalan-jalan mulu.
Bijo : “Malakin preman di terminal”
Temen baru kenal : “Whoaaa pantesan jalan-jalan mulu!”

***

Temen kantor : “Gaji lo berapa sih, jalan-jalan mulu?”
Bijo : “Yaelahh, gaji gw sama lo gedean lo kaliiiii!”

***

Bijo : “Tahun ini gw gak mau jalan-jalan!”
Fisra : “Boong!! Ujug-ujug lo pasti posting poto jalan-jalan di pesbuk!”
Bijo : *cengengesan

***

Yelahh, saya jalan-jalan kan setahun palingan cuma 1-2 kali keleus. Ini aja posting mulu di blog seakan-akan banyak jalan, itu kan pencitraan doang haha. Paling tidak saya kudu jalan-jalan minimal sekali dalam setahun. Ke mana aja yang penting judulnya jalan-jalan.

I just wanna travel

I just wanna travel

I just wanna travel. Meet new places, new people and see places I’ve never been before!

Nggak punya uang atau waktu luang bukanlah alasan buat kamu nggak bisa jalan-jalan. Banyak cara menuju Roma, salah satunya dengan membeli tiket pesawat promo jurusan CGK-FCO, atau dengan cara kerja, kerja, kerja, nabung, jadi pelit dan kejam. Kejam kepada siapa? Kejam kepada diri sendiri. Terkadang kebutuhan hidup kita itu terlalu banyak sehingga gaji bulanan tidak menutupi untuk biaya hidup bulanan dan memaksa kita untuk tutup lobang gali lobang. Aduhh kok jadi panjang lebar gini ya ceritanya :-D

Kejam? Maksudnya? Iyaaa, saking pengennya nabung buat beli tiket pesawat ke destinasi impian saya seringkali mengurungkan niat saya untuk jajan ini jajan itu, walaupun sebenernya saya kepengen banget maen ke mall dan bersenang-senang. Saya dibilang pelit sama orang dekat saya karena nggak pernah traktir mereka, saya aja nggak traktir diri saya sendiri kok. Maafkan saya yang pelit sangat, maapkeun. Saya memang kejam, kalo gak kejam saya nggak bisa ke mana-mana.

Jalan-jalan itu nggak cuma milik orang kaya. Kita yang hidup prihatinpun masih bisa jalan-jalan kalo diniatin. Saya menghindari bergaul dengan emak-emak muda di kantor yang setiap istirahat siang hari jumat selalu mengajak saya ke mall depan dan belakang kantor. Kalo ikut keluar pasti keluar duit buat ongkos taksi dan jajan, yang seharusnya buat disimpen buat jalan-jalan. Mereka beli baju baru, sepatu baru, sedangkan saya mengetatkan ikat pinggang sambil ngeces liatin mereka, fiuhhh. Kalo udah waktunya istirahat hari jumat saya mendingan duduk di meja kerja saya dan ngeblog atau ngapain kek, jangan melangkahkan kaki keluar ruangan karena terlalu banyak godaan syaiton haha.

Nggak punya duit buat jalan-jalan? Sama!
Kamu kerja kan? Kamu dapet gaji kan? Nahh gimana caranya supaya gaji bulanannya bisa disisihkan buat biaya jalan-jalan. Kesampingkan dulu keinginan kamu untuk beli smartphone keluaran terbaru dan canggih, gak usah maksa kalo belom butuh-butuh amat. Daripada buat bayar cicilan smartphone selama 1 tahun, mendingan nggak usah beli dulu dan duitnya dipake buat nambahin modal jalan-jalan.

Tapi kan gaji saya nggak cukup buat jalan-jalan!
Duhh alasannya banyak amat cyinn. Kamu masih single kan? Kamu jomblo? Mwahaha kasian deh lo Nahhh jadi jomblo itu ternyata ada kelebihannya lho. Dengan menjadi jomblo kamu nggak perlu pusing ngeluarin duit buat kongkow atau malem mingguan, nggak perlu traktir pacar kamu, gak perlu ngebeliin baju buat pacar kamu, sehingga duitmu tetap utuhh *tunjukin dompet yang tebel berisi struk belanja*

Kalo masih numpang di rumah ortu, nggak ngekos dan keluar ongkos gede buat ke tempat kerja kamu bisa nabung dengan tenang. Kalo ada tanggungan yang harus kamu biayain, hmm saya nggak berani komentar kalo ini.

Kita itung-itungan nyok! Misalnya gaji kamu sebulan 2 juta (UMP sekarang berapa sih?), kamu bisa menyisihkan 50%nya buat ditabung, sisanya buat memenuhi biaya hidup bagaimanapun caranya. Ingat, kamu harus kejam!! 1 juta dikali 12 bulan udah dapet 12 juta, duit segitu bisa dipake buat liburan ke Jepang/Korea/Beijing/Myanmar/Thailand/Kamboja/Taiwan selama 1-2 minggu. Kan judulnya hemat, di sana nanti kamu numpang aja di rumah teman atau ngampar pake kardus di depan ruko, susah amat, yang penting kan judulnya jalan-jalan.

Kalo gaji kamu 3 juta, kamu bisa nabung lebih banyak lagi, asalkan menerapkan gaya hidup hemat dan kejam. Kejam itu nggak selalu jahat. Nabung 2 juta sebulan, dikali 12 udah dapet 24 juta, udah bisa buat ke Australia atau Eropa, wohoooaa!! Kalo gaya jalan-jalan kamu kayak Syahrini mah gak bakalan cukup duit segitu.

Jalan-jalan nggak perlu ke Maldives, ke Karimun Jawa pun jadi.
Kalo kamu nggak tega ngabisin duit banyak-banyak buat traveling, mendingan kamu jalan-jalan di tempat yang dekat-dekat aja. Indonesia itu indah, luas dan murah (kecuali Indonesia Timur) *sotoy*. Kalo kamu sayang ngabisin duit sampe belasan juta buat jalan-jalan, cobalah mencari destinasi yang lebih ramah kantong. Kalo kamu tinggal di Jakarta kamu bisa ke sekitaran pulau Jawa, agak jauhan dikit juga bisa, ikutan open trip ke Lombok-Labuan Bajo-Komodo juga nggak bikin kamu jatuh miskin. Saya ikutan open trip Lombok-Komodo cuma bayar seharga 3,5 juta total 5-6 hari perjalanan.

Nekad!
Mumpung masih muda, kamu belum dipusingkan dengan biaya buat beli susu si adek bayi, sekolah si kakak, belanja sayur si mbak, gaji si mbak, biaya bensin ke kantor, cicilan motor, cicilan mobil, cicilan rumah, cicilan pesawat jet. Kamu nggak perlu menunggu terlalu lama untuk pergi karena masa muda nggak akan keulang lagi. Kalo ntar-ntar keburu kamu dipusingkan dengan biaya lainnya. Terkadang dalam hidup kamu harus nekad. Nggak usah lama-lama ambil keputusannya, udah berangkat aja sanaaa. Ngomong sih gampang hahaha.

Oh iya, walaupun kejam jangan lupa buat sedekah yak, semakin banyak member semakin banyak kita menerima. Nggak tau aja, rejeki datang dari mana aja. The power of sedekah.