Akhirnya jadi juga… Visanya

Hari jumat minggu yang lalu hampir seharian saya selalu dapet panggilan telepon, mulai dari si bos yang lagi dines ke daerah, mas sales, temen kuliah, sampe dari kedutaan Australia.

Ini sih yang paling saya tunggu-tunggu, pagi-pagi sekitar jam 9an saya dapet telepon dari nomor ga dikenal. Suara mbak-mbak di telepon suaranya kok familiar kayak pernah denger gitu. Dia menanyakan rencana kedatangan saya ke Australia, kapan, berapa lama dan ke kota apa aja. Padahal kan di itinerary dan dokumen permohonan aplikasi visa sudah dilampirkan tiket pesawat pergi pulang. Mungkin untuk konfirmasi aja kali supaya lebih jelas. Terakhir si mbaknya bilang, “Ok sebentar lagi visanya akan keluar”. Yippiiiieyyy

Saya santai aja soal visa transit ini, soalnya udah dapet visa nz-nya. Siangnya sekitar jam 12an saya ngecek email, visa transitnya udah dikirim. Waktu saya liat nama pengirimnya, saya sampe mikir mencoba inget-inget gitu, kok ga asing yah. Sepertinya ga asing deh. Oalah ternyata dulu saya pernah bertemu dan ngobrol dengan mbak visa ini waktu di Menteng.

Visa udah beres, hostel dan tiket bus juga udah dibooking. Sekarang yang saya pusingin adalah biaya hidup selama di sana, tiap hari saya ngecek website BI liatin kurs dolar, kali aja abis pelantikan presiden nanti kursnya turun drastis, amin. Saya stress kali liat kurs dolar, kapan ya bisa kembali lagi ke angka dibawah 5000 rupiah. Baiklah saya akan kembali bekerja. Selamat berhari senin teman-teman!!

Mengajukan Visa Transit Australia

Difoto bulan juni tahun lalu

Difoto bulan juni tahun lalu

Kemarin sore lagi-lagi saya kabur diam-diam dari kantor dan berjalan jalan kaki selama 10 menit ke Mall Kuningan City sambil membawa berkas permohonan aplikasi visa. Yapp, saya kemarin mengajukan permohonan aplikasi visa transit Australia di Australia Visa Appplication Center di VFS Global Kuningan.

Dokumen yang saya lampirkan kemarin adalah :

1. Formulir Permohonan Aplikasi Visa Transit (subclass 771)
2. Pasfoto 3,5 x 4,5 cm
3. Surat Keterangan Bekerja
4. Surat Cuti
5. Fotocopy Kartu Keluarga
6. Fotocopy KTP
7. Fotocopy Paspor
8. Itinerary Perjalanan
9. Tiket Pesawat Pergi Pulang
10. Rekening Koran 3 Bulan Terakhir

Kemarin saya terlalu malas untuk googling dan mencari ceklis dokumen lampiran yang harus dibawa, jadi saya bawa aja semua dokumen yang saya lampirkan saat apply visa New Zealand hehe. Formulir aplikasi visa transit Australia (subclass 771) Form 876.pdf bisa diklik langsung link di samping atau  di sini

Pasfoto 3,5 x 4,5 warna latar ga dijelaskan di websitenya, jadi anggap saja warna bebas. Untuk jaga-jaga saya pake warna background putih.

Surat keterangan bekerja dan surat cuti supaya ketauan kalo saya kerja dan udah dapet cuti, jadi beneran ke sana buat transit dan liburan bukan buat mencari pekerjaan part time.

Fotocopy KTP, fotocopy keluarga dan fotocopy paspor juga harus dilampirkan. Saya mengcopy semua lembaran halaman paspor sebanyak 48 halaman, tapi ternyata yang diambil cuma halaman depan dan halaman yang udah ada stiker visa dan cap paspor, serta stiker visa New Zealand. Kemarin saya ga menyertakan fotocopian KTP, jadi harus mengcopy di copy booth di luar loket, 1 lembar 500 rupiah.

Tiket pesawat pergi pulang dan itinerary perjalanan juga saya lampirkan. Bahkan saya masukin juga itinerary New Zealand, itinerary Australia walaupun cuma transit 32 jam juga saya buat detail sampe ke estimasi biaya pengeluarannya. Rekening koran 3 bulan terakhir juga saya lampirkan, yang asli malah.

Seharusnya persyaratan permohonan visa transit Australia ga lebih banyak daripada visa turis NZ, buat jaga-jaga saya bawa aja semuanya. Masih ada yang ketinggalan dink, fotocopy akta kelahiran kayaknya boleh dilampirkan deh, kemarin saya ngintip lembar ceklis mbak petugasnya. Waktu memasuki ruangan kita akan diberikan nomor antrian, nomor antrian saya kemarin kan AUV174. Berhubung mbak operator yang manggilin nomor antriannya itu bule, atau pake bahasa inggris aksen Australia atau Inggris atau NZ, saya sampe ga nangkep gitu. Saya sampe maju nanya mbaknya di loket nomor saya udah dipanggil atau belum, saya denger antara AUV sama AUE ketuker terus, terus pengucapan angkanya juga ga jelas. Ampun dah pernah tinggal sebentar di Australia sampe sekarang saya masih tetep ga nangkep aksen engerish oz huhu, malu-maluin.

Setelah menyerahkan berkas dan melakukan pembayaran kita akan diberikan struk yang berisi kode yang dapat digunakan untuk melacak proses permohonan aplikasi visa transit kita. Visa Australia saat ini kan udah dalam bentuk E-Visa, jadi ga ada lagi stiker visa yang ditempel di paspor. Dulu pernah denger waktu lagi di kantor imigrasi brisbane, kalo mau diprint stiker visanya harus bayar 70 atau 80 dolar gitu dah, lupa saya.

VFS Global
Australia Visa Application Center
Kuningan City Lantai 2 No. L2-19
Jalan Prof. Dr.Satrio Kav.18

Biaya
Biaya permohonan aplikasi visa Australia gratis, biaya VFS Global Rp 183.000

Proses
3 hari kerja (punya saya belum jadi, baru masukin kemarin)

Serunya Mengurus Visa New Zealand

New Zealand Visa Application Center di Kuningan City

New Zealand Visa Application Center di Kuningan City

Sebagai independent traveler, merencanakan perjalanan seorang diri dan mengurus permohonan visa seorang diri adalah hal yang biasa, malah sangat menyenangkan buat saya. Masa-masa ngurusin dokumen persyaratan visa adalah saat yang paling saya tunggu-tunggu. Gimana rempongnya minta tanda tangan sana-sini, diinterogasi bos-bos di kantor buat minta surat cuti dan surat keterangan bekerja, main kucing-kucingan di kantor dan kabur diem-diem jalan kaki ke kuningan city buat apply visa sampe dicariin bos, dan masih banyak lagi cerita dibalik visa. Kalo kamu ga mau repot jalan sendiri ke Visa Application Center, bisa kok minta tolong agen perjalanan untuk mengurusnya. Menurut saya, mengurus visa sendiri, selain biayanya jauh lebih murah, juga dapat memberikan kepuasan tersendiri kalo visa yang kita ajukan disetujui.

Berikut ini adalah syarat pengajuan aplikasi visa New Zealand
1. Formulir aplikasi visa INZ1017
2. Pasfoto 3,5 x 4,5
3. Salinan tiket pesawat pergi pulang
4. Surat keterangan bekerja
5. Surat cuti
6. Rekening koran 3 bulan terakhir
7. Itinerary perjalanan
8. Bukti bookingan hotel
9. Salinan Kartu keluarga
10. Paspor

Formulir aplikasi visa dapat diunduh dari website imigrasi New Zealand. Ukuran pasfoto 3,5 x 4,5 cm sebanyak 2 buah ditempel di formulir aplikasi visa NZ. Warna latarnya bebas, tapi saya memilih warna background putih supaya sekalian buat apply visa transit Australia.

Untuk tiket pesawat kalau yang saya baca di website, tidak harus tiket yang sudah diisued, bookingan aja juga boleh. Karena saya nemu tiket promo dan emang udah ngebet kepengen ke NZ, maka saya membeli tiket duluan. Amit-amit visa ditolak, tiketku bisa-bisa hangus deh. Saya ga ngerti juga gimana cara ngebatalin atau refund tiket pesawat, lagian emangnya bisa ya kalo tiket promo dialihin rute tujuannya?

Surat keterangan bekerja dalam bahasa inggris diperlukan untuk memastikan kepada pihak kedutaan bahwa pemohon memiliki pekerjaan tetap dan akan kembali ke negara asalnya setelah kunjungan selesai. Sedangkan surat cuti dari kantor untuk menguatkan status pemohon yang memang sedang cuti dari pekerjaan.

Rekening koran 3 bulan terakhir dibutuhkan untuk menjamin bahwa pemohon memiliki dana yang cukup untuk biaya hidup selama di negara yang dikunjungi. Saya ga melampirkan surat referensi bank, karena ribet bikinnya harus ke kantor cabang bank di Warung Buncit, jadi saya cuma pake rekening koran asli yang saya print di bank di lantai bawah kantor saya. Ada negara yang menyebutkan jumlah nominal sejumlah tertentu selama 3 bulan terakhir dan ada pula yang tidak menyebutkan jumlahnya secara spesifik. Sebaiknya pemohon memiliki catatan pemasukan dan pengeluaran yang stabil selama 3 bulan terakhir. Untuk kedutaan New Zealand mengharuskan jumlah rekening sebesar NZD 1000/bulan selama 3 bulan, jadi harus ada $3000 (kalau akomodasi belum dibayarkan). Kalo penginapan atau hotel sudah dibayarkan, cukup $400/bulan dikali 3 bulan. Saya pinjem duit kakak saya sebelum apply visa, saya endapin di rekening saya.

Itinerary perjalanan adalah jadwal atau agenda selama perjalanan berlangsung yang berisi daftar kegiatan yang akan dilakukan, serta estimasi biaya pengeluaran yang akan dikeluarkan selama melakukan perjalanan. Itinerary ini menurut saya penting banget untuk memberikan gambaran mengenai perjalanan yang akan dilakukan. Waktu saya lebih banyak dihabiskan dengan membuat itinerary dan googling nyari hostel yang sesuai bugdget. Saya jadi ada bayangan berapa biaya yang nanti bakalan dikeluarin selama perjalanan saya di New Zealand.

Di dalam itinerary perjalanan dituliskan jenis akomodasi atau tempat bermalam. Bookingan hotel yang sudah dibayar pake kartu kredit harus dilampirkan bersama dengan dokumen persyaratan permohonan aplikasi permohonan visa lainnya. Harus? Entahlah, saya cuma jaga-jaga aja makanya udah booking hostel, sebagian baru bayar dp dan sebagian sudah lunas. Saya ga ngerti juga kenapa rata-rata semua hostel yang mau saya inapi mengharuskan saya memberikan data kartu kredit, padahal waktu pesan penginapan di korea ga pake data kartu kredit lho. Atas dasar percaya sama percaya aja kita email-emailan sama pemilik penginapan. Entahlan, setiap negara berbeda. Jenis akomodasi yang nanti saya pakai di NZ bervariasi, mulai dari hostel kamar dorm, hostel private room, lodge, kabin, forest cabin (ini yang paling seru kayaknya) dan holiday park. Pengen sih nyobain nginep di hotel atau apartemen, tapi budgetnya ga cukuuuup. Apa sih bedanya kabin sama lodge? #nanyaserieus

Selain salinan kartu keluarga, paspor asli adalah dokumen yang selanjutnya harus dilampirkan bersama dengan dokumen lainnya. Paspornya harus yang masih berlaku yaaa. Jangan tanya soal paspor ke saya ya hehe.

Mengurus permohonan aplikasi visa New Zealand ternyata ga ribet lho, apalagi kalo semua dokumen persyaratan dipenuhi, niscaya aplikasi visa kamu akan disetujui pihak imigrasi kedutaan NZ.


Apply visa di mana?

VFS Global
NEW ZEALAND VISA APPLICATION CENTRE
Kuningan City Mall Lantai 2 No. L2 – 19
Jl Prof. Dr. Satrio Kav. 18
Setiabudi, Kuningan, Jakarta 12940

Surat keterangan bekerja ditujukan ke
Visa Section
New Zealand Embassy
Sentral Senayan 2, Floor 10
Jl Asia Afrika No 8
Gelora Bung Karno
Jakarta Pusat 10270

Berapa biayanya?
Biaya pengajuan aplikasi visa New Zealand sebesar Rp 1.750.000 ditambah biaya logistik Rp 250.000, ditotal jadi Rp. 2.000.000

Prosesnya berapa lama

Maksimal 10 hari kerja, visa saya diproses dalam waktu 3 hari kerja setelah tanggal penyerahan dokumen. Setelah kita menyerahkan berkas dan membayar biaya permohonan aplikasi visa, kita akan diberikan tanda terima/struk yang berisi kode untuk melacak proses permohonan aplikasi visa sudah sampai di mana. Struk ini harus kita simpan buat bukti pengambilan visa dan paspornya nanti. Untuk pengambilan paspor harus bawa KTP juga ya. Untuk informasi mengenai visa NZ bisa dicek ke websitenya VFSGlobal.

Visa sudah ditangan, selanjutnya kamu bisa melanjutkan mimpi untuk mengunjungi negara impian. Jangan takut untuk bermimpi.

Senangnyaaa

Kabar gembira! Akhirnya permohonan aplikasi visa saya diapprove kemarin, Alhamdulillah. Ga tanggung-tanggung, saya dapet visa multiple entry yang berlaku sampai 2 tahun ke depan. Berarti kalo nanti saya ada rejeki (amin!) dan kepengen mengunjungi negeri kiwi saya bisa tinggal nyelonong keluar masuk tanpa harus mengajukan permohonan aplikasi visa lagi di NZ Visa Application Center. Kalo masuknya melalui Australia, saya tinggal apply visa transit saja.

Proses permohonan aplikasi visa saya diproses selama 3 hari kerja. Sebelumnya saya dikasih tau petugas NZVAC kalo proses permohonan biasanya selama 10 hari kerja.

Oh iya kalo mau ke nz sebaiknya jangan pas peak season atau summer karena biayanya mahal banget, tiket pesawat sih pengeluaran yang paling bikin nyesek. Rajin-rajinlah ngecek newsletter airline, kali aja nemu tiket promo kayak ini.

image

Tiket promo pp oz nz

Berhubung saya ke sananya pas mendekati natal, maka promo sebagian besar airlines ga berlaku. Coba aja nyari tiket Air Asia atau Garuda pas tanggal 25 desember, pasti jatohnya mahal banget. Saya ngecek tiket di Skyscanner pun ga nemu yang agak murah, mahal semua huhuhu.

Kali aja tahun depan saya udah kawin dan nemu jodoh yang suka jalan-jalan, jadi hanimunnya bisa ke nz haha. Gilak lo ngayal mulu hehe. Duh berangkat aja belom udah ngayal pengen ke sana lagi hehe.

Kepengen doang

image

Saya kalo udah punya keinginan itu susah, bakalan kepikiran terus dan kalo punya duitnya bakalan impulsif, beli tanpa mikir. Tapi kalo lagi ga punya duit kan susah, cuma bisa ngebayangin doang hiks. Enak kali ya kalo punya suami yang gajinya gede, trus kalo kita minta apa-apa tinggal minta disponsorin, kalo perlu pake proposal #ngayal

Tinggal bilang aja, “Aku mau ini lho mas” *nunjuk layar laptop* Ya kali suatu saat nanti saya punya suami haha

Jadi beberapa hari yang lalu saya liat video temannya temanku di facebook yang lagi bungee jumping di atas sungai Nevis di Queenstown. Semalem saya liat-liat websitenya dan ngecek daftar harganya, alamak bungee jumping di Nevis mahal buanget tarifnya, diatas 200 dolar, lagian ketinggian juga sih 134 meter mana berani saya. Saya liat-liat youtube orang-orang yang pada bungee jumping kayaknya kok ya seru banget ya.

Ga usah nevis deh, di kawarau yang cuma 43 meter, kalo gratisan saya mau banget, cuma 195 dolar doang kok. Cuma?! Nyesek ya duit abis cuma dalam hitungan detik doang, tapi kan puas, sekali seumur hidup di tempat terkenal pelopor bungee jumping di nz.

Kalo ditambah direkam video dan foto nambah lagi 80 dolar, kalo cuma salah satunya aja 45 dolar. Alamaak tambah mahal yang ada. Siapa yang mau bayarin saya ya?

Saya semingguan kemaren sibuk bikin itinerary dan booking tiket bis dan hostel. Budgetnya rekor, rekor termahal dalam sejarah perjalanan saya. Kalo di korea masih bisa hidup hemat demi tiket pesawat pergi pulang garuda, kali ini saya naik budget airlines, bahkan saya ga mampu buat beli bagasi check in. Mahaaaal!

Sekarang saya harus nahan lapar dan nahan jajan di luar, seribu rupiah pun sangat berharga buat saya. Saya bener-bener ngais-ngais celengan buat perjalanan impian. Siapa suruh maksa pengen jalan-jalan ke sana hihi.

Saya pengen bungee jumping, saya cuma pengen ngerasain loncat dari ketinggian dan mengalahkan ketakutan saya. Ada yang mau bayarin ga?

Rempongnya Ngurus Visa

Visa Application Center di Kuningan City

Visa Application Center di Kuningan City

Saya udah pernah pake judul ini waktu 2 tahun yang lalu saat apply visa korea, tahun ini saya kembali bikin postingan yang sama. Sebenarnya ga rempong sih, cuma suka aja pake judul ini hehe. Saya udah lama banget kan ga apply visa, tahun lalu visanya diurusin orang kedutaan jadi ga perlu ngumpulin dokumen-dokumen kelengkapan visa.

Akhir-akhir ini kepala saya pusing 7 keliling, pusing yang bener-bener mumet gitu sampe ngebul kepala haha. Saya disibukan dengan mengumpulkan dokumen persyaratan visa. Hampir semingguan saya sibuk nyari kartu keluarga dan sampai kemarin saya nyerahin berkas ke visa application center masih aja nggak ketemu, untung saya pernah nye-can beberapa tahun yang lalu #lega

Selama semingguan ini saya ga konsen ngerjain krjaan dan laporan skripsi, saya sampe ngebatalin jadwal bimbingan sama dosen karena belum siap, apa yang mau dibahas lha wong belum ngerjain hihi. Trus dari bangun tidur sampe mau tidur mata saya ga berhenti liatin layar hp dan layar komputer mencari informasi hostel sampai transportasi negara tujuan.

Kemarin juga saya main petak umpet di kantor, saya kabur diam-diam dan menghilang selama 30 menit langsung capcus ke mall di belakang kantor, tempat apply visa. Untung jaraknya dekat jadi ga perlu berlama-lama ke sananya. Saya kan udah tau tempatnya, tapi saya belum pernah masuk.

Di Mall Kuningan City saya langsung masuk lift dan menekan tombol lantai 2 kemudian jalan sedikit dan sampailah di VFS Global. Saya tanya mas-mas di lobby depan di mana tempat buat apply visa nz. Oh iya kalo mau masuk ke tempat apply visa ini hpnya harus dimatikan, padahal kan saya mau foto-foto loket di dalam tapi ga dibolehin. Saya kebagian nomor antrian 32, jam 3 sore. Sepi banget tempatnya, mungkin karena udah sore kali ya.

Loket penyerahan dan pengambilan berkas visa Australia dan New Zealand berada di ruangan yang sama, loket visa oz jauh lebih banyak daripada loket visa NZ yang cuma beroperasi 2 meja. Memasuki ruangan ini berasa kayak di Customer Service Bank. Saya ga berhenti liatin foto pemandangan yang dipajang di belakang loket. Saya dilayani oleh mas-mas dan saat saya duduk pertanyaan pertama yang ditanya adalah, “Dari instansi mana mbak?” #Jleb

Emangnya keliatan ya seragam saya, kan udah pake jaket, ketauan satpol pp dah ada karyawan cabut di jam kerja haha. Waktu lagi ngecek berkas dokumen persyaratan visa saya sambil ditanya-tanya gitu, “Kenapa pengen ke NZ? Mau ngapain? Sama siapa? Siapa yang bayarin?”

Saya jawab satu-satu, “Dream destination, halan-halan, sendirian eh sama teman, bayar sendiri.” Ya kali ada yang mau bayarin saya jalan-jalan, ga bakalan nolak juga saya.

Dokumen persyaratan visa saya dicek kelengkapannya satu-satu, saking lengkapnya sampe ada yang dibalikin. Setelah dokumen persyaratan visa diverifikasi dan dicap oleh mas petugas, kita kemudian diberikan receipt yang berisi kode atau nomor referensi untuk menelusuri berkas aplikasi visa sudah sampai tahap mana, apakah masih proses atau sudah selesai. Biaya yang dikenakan untuk mengajukan turis visa adalah sebesar Rp 1.750.000 plus biaya logistik Rp. 200.000 jadi ditotal kena 2 juta rupiah, mahal bangeeeeeet #nangiskejer

Biaya apply visa sama tiket pesawat AA CGK-OZ, masih mahalan biaya visa. Saya sampe bengong-bengong gitu liatin foto pemandangan, tapi pas inget biaya perjalanan keseluruhannya mendadak bikin saya sesak nafas. Gpp ya sekali-kali boros belanja tiket buat jalan-jalan, ga sering-sering ini. Mulai hari ini saya sudah bisa bekerja dan mengerjakan laporan skripsi dengan tenang tanpa gangguan. Tapi saya belum bisa bernafas lega sebelum visa saya diapprove dan benar-benar menginjakan kaki di negara kiwi dan kembali ke rumah dengan selamat. Ini adalah perjalanan yang paling saya tunggu-tunggu. Semoga visa saya diapprove, amin

Koper atau Ransel?

Entah kenapa tiba-tiba pengen posting 2 benda yang lagi teronggok di kamarku. Asli kamar saya berantakan banget, di depan saya ada 2 buah koper ukuran kecil dan besar warna ungu dan merah, sedangkan di samping saya tergeletak 3 buah ransel (carrier, ransel biasa buat traveling dan daypack) serta tas selempang kecil warna ijo yang udah ikut saya ke mana-mana, di sebelah kanan saya pas ada ransel orange hitam yang selalu menemani saya ke kantor dan ke kampus.

Setiap bepergian saya selalu mengelompokan barang bawaan berdasarkan tujuan perjalanan. Kalo perginya dibayarin kantor, berarti kan dinas luar, jadi kudu bawa koper yang siap digeret ke mana-mana yang di dalamnya berisi pakaian seragam, batik sampe berkas dan alat tulis. Dan ga ketinggalan ransel laptop walaupun ga bawa laptop, saya suka ribet bawa-bawa tas tenteng sambil bawa koper, biarin aja ga gaya juga.

Kalo tujuan bepergian buat jalan-jalan (dengan biaya sendiri pastinya), saya lebih senang membawa ransel coklat saya. Berat sih tapi praktis, bisa dibawa ke mana-mana, ke kabin pesawat juga ga makan tempat tapi bisa menampung banyak barang bawaan. Saya penasaran apa bisa saya masukin rice cooker kecil ke ransel saya ini ya hahaha.

Ransel setia yang menemani perjalananku ke mana-mana

Ransel setia yang menemani perjalananku ke mana-mana

Waktu jalan-jalan ke Thailand barengan dengan 2 teman saya, diantara kami ada yang bawa ransel dan ada yang bawa koper. Bawa koper enak ga nyusahin punggung tapi ribet kalo dibawa turun naik tangga dan naik bus umum sampe harus ngegeret di jalanan ga rata bahkan ngelewatin lapangan bola sambil diikutin anjing hitam haha. Beneran kami diliatin anjing warna hitam yang keliatan galak banget sampe kami balik arah dan memutuskan untuk ga lewatin lapangan, tapi akhirnya lewat juga sih dianterin sama ibu-ibu Thailand yang baek, temen saya agak-agak ribet gitu bawa kopernya.

Nah kalo lagi DL itu lebih enak bawa koper, soalnya dari bandara kan kita pasti naek taksi atau dijemput dari kantor cabang jadi ga rempong harus ngegeret sampai ke jalan raya, tau-tau udah sampe aja gitu ke lobi hotel. Salah satu cita-cita saya sejak dulu itu bisa naik pesawat dibayarin kantor, dan akhirnya kesampaian 2 tahun yang lalu. Dalam setahun saya bisa sampe belasan kali naik pesawat baik bayar sendiri maupun dibayarin kantor, tapi itu dulu. Tahun ini saya baru 2 kali DL san sepertinya tidak akan ada DL lagi.

Sedangkan untuk perjalanan yang cuma makan waktu sebentar, sehari sampe 2 hari saya cuma bawa daypack aja. Sebisa mungkin bawa barang seminimal mungkin, the lighter you travel, the easier. Di setiap ransel-ransel itu sebagian udah ada isinya, saya punya 2 buah toiletris (sikat gigi, sabun, odol dan kawan-kawan) yang masing-masing di taro di tas yang berbeda. Buat jaga-jaga aja sih walaupun saya ga akan bepergian dalam waktu dekat. Eh iya saya mau daytrip ke pulau dink 2 minggu lagi, sampe lupa gara-gara trip yang lain. Pokoknya di koper sama ransel udah ada isinya masing-masing. Kayak dulu suka dadakan disuruh berangkat ke luar kota. “Bijo, besok kamu berangkat ke Lhangsa sama Lhokseumawe yah!” “Bijo, kamu minggu depan berangkat ke Bangka!” “Bali, Palangkaraya, Kendari, Batam…” Ke mana aja saya mah hayuuuuuuuk haha.

Ya ampun saya kangen jalan-jalan, bulan September ini saya ga ke mana-mana, cuma ke klinik doang 2 kali dan disuntik hiks. Bulan September ini saya flu berat sampe harus istirahat di rumah. Tapi sekarang kan udah bulan Oktober, jadi udah semangat lagi buat jalan-jalan hehe. Bahkan saya udah ada jadwal ngetrip buat tahun depan heehe. Let’s packing!!